SEP Surabaya, Sentra Evangelisasi Pribadi

Renungan Kamis 14 September 2023

Bacaan: Bil. 21:4-9; Mzm. 78:1-2,34-35,36-37,38; Flp. 2:6-11; Yoh. 3:13-17.

Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. (Filipi 2:8)

Bangsa Israel adalah bangsa yang diberkati Tuhan. Tuhan selalu menyertai dan tidak pernah meninggalkan mereka. Dalam perjalanan menuju Kanaan mereka tidak dapat menahan hati. Mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa. Mereka melupakan berkat Tuhan dan kepemimpinan-Nya. Mereka berdosa sehingga Tuhan menyuruh ular-ular tedung, yang memagut mereka sehingga banyak orang Israel itu mati. Dosa tidak bisa ditoleransi. Dosa itu membawa kematian. Ular tembaga yang ditinggikan dalam sebuah tiang menyelamatkan mereka dari kematian.

Tuhan ingin manusia hidup bahagia dan berkelimpahan. Ia memberikan berkat yang berlimpah ruah namun manusia malah melakukan dosa yang bergelimpangan. Kasih Allah yang luar biasa akhirnya mengutus Yesus, Putra Allah ke dunia. Walaupun dalam rupa Allah ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan. Ia merendahkan dirinya dan taat sampai wafat di kayu salib. Ia harus ditinggikan untuk menyelamatkan manusia. Siapa yang percaya kepada-Nya akan memperoleh hidup kekal.

Tanpa kerendahan hati dan ketaatan Yesus Kristus, kita semua tetap binasa. Apakah sebagai manusia, Yesus tidak merasakan penderitaan dan rasa sakit di kayu salib? Yesus adalah 100% manusia yang terdiri dari darah dan daging. Tentu saja Ia juga mengalami rasa takut dan sakit. Pada malam sebelum Ia diserahkan, Ia berdoa semalaman dalam Taman Getsemani. Harapannya akan ditemani oleh murid-murid-Nya, namun mereka tertidur. Saat itu Yesus melaluinya sendirian. Pergumulan besar terjadi dalam dirinya. Sekiranya mungkin biarlah cawan ini berlalu dari-Nya. Namun ketaatan-Nya yang luar biasa membiarkan kehendak Bapa-Nya Yang Terjadi.

Dalam kehidupan kita sehari-hari kita juga mempunyai banyak pilihan, banyak pergumulan. Apa yang kita senangi, apa yang kita rencanakan, kadang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita sering “memaksa” Tuhan untuk menuruti kehendak kita. Sungguh suatu sifat yang sangat tinggi hati. Marilah kita belajar seperti Yesus. Yesus yang merupakan Allah, mengosongkan dirinya dalam rupa hamba. Siapakah saya? Seorang hamba yang meninggikan diri menjadi seorang tuan? Sungguh tidak layak dan tidak pantas.

Satukan seluruh rencana kita dengan kehendak Bapa. Bagaimana saya bisa tahu kehendak Bapa? Dengan memiliki relasi yang semakin mendalam dengan Yesus. Dengan membaca kitab suci setiap hari. membuat kita semakin mengenal kehendak Bapa. Marilah kita berjuang memenangkan pergumulan yang terjadi. Salib Yesus adalah suatu kemenangan yang luar biasa. Sanggupkah saya memikul salib itu? Bukan kehendakku melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.

Terima kasih Tuhan untuk kasih dan penebusan-Mu atas dosa-dosaku. Penyertaan Roh Kudus-Mu akan menyertai dan memimpin kemenangan setiap pergumulanku.

Terjadilah padaku sesuai kehendak-Mu, amin (IDJ)

×