Renungan Minggu 28 Desember 2025
Bacaan: Sir. 3:2-6,12-14; Mzm. 128:1-2,3,4-5; Kol. 3:12-21; Mat. 2:13-15,19-23.
“Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: ‘Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.’” (Mat. 2:13-15)
Matius 2:13-15 berbicara tentang perlindungan, ketaatan, dan penggenapan janji Tuhan melalui kisah Yesus mengungsi ke Mesir, menekankan bahwa Allah melindungi umat-Nya melalui cara yang terkadang tidak terduga, menuntut kerja sama dalam ketaatan (Yusuf dan Maria), dan menegaskan bahwa Tuhan setia menggenapi rencana-Nya, menunjukkan Yesus adalah Raja Penyelamat bagi semua bangsa.
Ini juga menjadi pengingat bahwa kita dipanggil untuk menjadi pembawa kasih dan kepastian Kristus di dunia yang penuh ketidakpastian, sama seperti Yusuf membawa Yesus ke tempat aman.
Teladan St. Yusuf dalam hidup kita:
1. Ketaatan Tanpa Menunda
Yusuf menunjukkan ketaatan yang luar biasa. Begitu menerima petunjuk Tuhan melalui malaikat dalam mimpi, ia segera bangun dan membawa keluarganya berangkat pada malam itu juga. Ketaatan Yusuf mengajarkan kita untuk segera bertindak ketika Tuhan memberikan arahan, meskipun situasi terlihat sulit atau tidak nyaman.
2. Perlindungan Tuhan yang Sempurna
Tuhan tidak membiarkan rencana jahat manusia (Herodes) menggagalkan rencana keselamatan-Nya. Dengan membawa Yesus ke Mesir, Allah menunjukkan kesetiaan-Nya dalam melindungi Putra-Nya melalui “eksodus baru”. Ini menjadi pengingat bahwa penyertaan Tuhan sempurna bagi anak-anak-Nya di tengah bahaya.
3. Penggenapan Firman
Peristiwa ini bukan sekadar pelarian biasa, melainkan penggenapan nubuat lama: “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku” (Hosea 11:1). Hal ini menegaskan bahwa setiap detail kehidupan Yesus berada dalam kendali kedaulatan Allah untuk menggenapi rencana-Nya yang kekal.
4. Relevansi Saat Ini
Kisah ini menggambarkan Yesus sebagai “Juruselamat yang bermigrasi”, yang pernah merasakan penderitaan sebagai pengungsi demi keamanan.
Pada tanggal 27 Juli 2025, saya punya tugas mengajar di Gereja Yakobus Surabaya pada malam hari dengan materi SEP Pemuridan. Kondisi saya waktu itu tidak sehat karena sakit sesak saya kambuh. Hampir tidak mungkin saya bisa mengajar dalam kondisi sesak. Pada saat itu tidak mungkin saya minta guru pengganti, akhirnya saya putuskan untuk tetap berangkat mengajar. Sebelum berangkat saya berdoa di hadapan Bunda Maria cukup lama.
Sepulang dari mengajar malam hari saya masih bisa bertahan dan tidur sambil duduk karena sesak napas. Tetapi pagi hari sesak saya semakin berat. Pada akhirnya pagi itu saya harus dibawa ke rumah sakit (UGD) naik ambulans dan dirawat di UGD selama 8 jam, rawat inap selama 6 hari.
Dalam hal ini terjadi pergumulan antara iman, kesakitan, dan ketaatan, mana yang harus saya dahulukan. Puji Tuhan, saat ini saya sudah sehat dan saya kembali bisa melayani Tuhan Yesus.
Renungan ini mengajak kita untuk:
• Tetap percaya pada perlindungan Tuhan meski dalam situasi krisis.
• Memiliki hati yang peka dan taat seperti Yusuf dalam memimpin keluarga.
• Jangan menyerah, karena Tuhan bisa bekerja melalui segala cara.
• Bersyukur atas penyertaan Tuhan yang melampaui logika manusia.
Doa:
Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hidup ini dan segala usaha, karya, dan hidup kami. Dalam menghadapi tantangan di zaman ini, tambahkanlah selalu iman dan ketaatan kami yang tertuju kepada-Mu. Karena saya percaya perlindungan-Mu yang sempurna. Ya, Amin.
Amin.
(SWK)