Renungan hari Selasa, 30 Desember 2025.
Bacaan: 1Yoh 2:12-17; Mzm 96:7-8a.8b-9.10; Luk 2:36-40.
“Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.” (Lukas 2:37b)
Saya dan teman-teman mengelola suatu persekutuan doa lansia di lingkungan. Pada umumnya mereka ini tidak memiliki masalah keuangan dan tinggal di rumah mereka masing-masing. Bahkan ada yang tinggal seorang diri. Suatu ketika seorang ibu yang sudah menjanda datang ke persekutuan doa dan saya sapa “Sehat tante?” lalu janda tersebut menjawab “Sehat, Tuhan Yesus baik, Dia mengasihi saya.” Ibu tersebut rajin beribadah baik ke persekutuan doa maupun misa dan ketika diajak berbicara ia selalu mewartakan kebaikan dan perlindungan Tuhan atas dirinya.
Hana adalah seorang nabi perempuan pada masa kelahiran Yesus yang sudah sangat lanjut usia (Lukas 2:36-37). Ia menjanda di usia muda dan kemungkinan pernah merasa tidak berguna dan melarat. Namun dia tetap berfokus kepada Allah dan setia melayani-Nya. Ia merindukan Mesias, tekun berdoa, berpuasa, dan mengajarkan kepada orang lain apa yang dia dapat dari Allah.
Tuhan memperhatikan kerendahan hati hamba-Nya. Hana berjumpa dengan bayi Mesias, kerinduannya terpenuhi. Dia hendak menyampaikan sukacita itu kepada sesama. Seperti Hana, saya pun di masa lansia ini ingin meneladani dia yang setia dalam mendisiplinkan rohani saya dengan berpuasa, berdoa, agar saya bisa lebih dekat lagi kepada Tuhan.
Doa:
Ya Tuhan, jangan biarkan kesibukan menghalangi doa, ibadah, dan membaca firman. Mampukan aku bersyukur atas anugerah-Mu dan terus setia kepada-Mu pada tahun yang akan datang. Demi Yesus Tuhan dan pengantara kami. Amin. (JH)