Renungan Minggu, 11 Januari 2026
Yes. 42:1-4,6-7; Mzm. 29:1a,2,3ac-4,3b,9b-10; Kis. 10:34-38; Mat. 3:13-17
Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanes pun menuruti-Nya. ( Matius 3 : 15 )
Dua cerita ini saya petik dari wawancara nypost.com dengan suster dan pastor saat mereka bertemu dengan seseorang yang sekarang dikenal dengan nama Paus Leo XIV.
“Kesan yang saya dapatkan dalam percakapan kami adalah bahwa dia adalah seorang pendengar,” kata Suster Margaret Obrovac, yang baru-baru ini menyelesaikan tugasnya di Sekretariat Negara Vatikan. “Dia mencari hal-hal yang bisa dia setujui dan hal-hal yang bisa dia pahami, lalu mampu memberikan nuansa yang mencerahkan juga bagi saya,” katanya. Pendekatan Leo membuatnya terkesan.“Jika dia bisa membawa hal itu ke kepausan, dan saya percaya dia akan melakukannya, kita bisa melihat gereja yang lebih bersatu, jika kita sendiri bersedia untuk bersikap lebih bijaksana, jika kita bersedia untuk tercerahkan oleh orang lain dan tidak hanya memiliki ruang gema untuk pikiran kita sendiri, saya pikir bagi saya, itulah arti dari bersikap rendah hati,” jelasnya.
Uskup Agung Las Vegas, George Thomas, yang menghabiskan 90 menit bersama Leo selama kunjungan ke Roma pada tahun 2023, mengingat tokoh agama tersebut,“Dia adalah orang yang memiliki pengaruh dan kekuasaan yang cukup besar selama pemerintahan Paus Fransiskus, tetapi dia tidak menunjukkan citra kekuasaan itu di depan umum,” kata Thomas. Ketika mereka bertemu saat makan siang di Vatikan, Thomas bahkan tidak tahu bahwa dia sedang makan siang dengan seorang pejabat tinggi Vatikan. “Pakaiannya dan sikapnya lebih menunjukkan seorang pastor paroki yang datang untuk menyampaikan ucapan selamat kepada saya, dan saya segera mengetahui melalui orang-orang di sekitar saya bahwa ini adalah prefek (pemimpin atau pejabat yang memegang otoritas di suatu wilayah atau institusi) Kongregasi untuk Para Uskup,” kenang Thomas dalam sebuah wawancara telepon. “Saya pikir Paus Leo akan segera membawa kerendahan hati yang menawan, dan kerentanan yang, setidaknya bagi saya, berpotensi membuka pintu.” kata Thomas.
Dari dua cerita itu kita menangkap bagaimana seseorang disebut rendah hati seperti yang diteladankan Yesus dan Yohanes Pembabtis, agar kehendak Allah terjadi. Meskipun Yesus adalah Putra Allah, mau datang dan minta dibabtis oleh manusia biasa. Yohanes bersedia menuruti keinginan Yesus karena tahu itulah yang menjadi rencana Allah. Beberapa kata kunci: kehadiran untuk mendengarkan karena tidak merasa lebih hebat/ sedang berkuasa, kerendahan hati yang tercermin dalam sikap tidak menunjukkan kekuasaan yang dimiliki (sebagai kepala komunitas, kepala rumah tangga, pemilik aset, atasan, pemegang jabatan apapun).
Bagaimana dengan kita? Mari kita amati kejadian disekitar dan bagaimana kita bersikap. Maukah hari ini saya hadir dan mendengarkan mereka yang biasanya saya tinggalkan, abaikan atau mereka yang pendapatnya kurang berarti? Bagaimana sikap saya hari ini? Hadir sebagai teman atau sebagai seseorang yang diatas orang lain?
Bapa, bantu saya hari ini untuk belajar mendengarkan suara-suara mereka yang lemah dan terpinggirkan. Mampukan saya hadir sebagai sahabat yang dekat dan bukan orang asing. Amin ( FW )