Renungan hari Sabtu, 24 Januari 2026, Peringatan Wajib St. Fransiskus dari Sales, Uskup dan Pujangga Gereja.
Bacaan: 2Sam. 1:1-4,11-12,19,23-27; Mzm. 80:2-3,5-7; Mrk. 3:20-21
Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi. (Mrk 3:21)
Dalam hidup beriman, tidak semua orang akan mengerti pilihan dan cara kita mengikuti Tuhan. Bahkan orang-orang terdekat pun bisa salah paham.
Dalam Injil hari ini diceritakan bahwa Yesus begitu sibuk melayani orang banyak sampai Ia dan para murid tidak sempat makan. Ketika keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang karena mengira Yesus sudah tidak waras. Mereka belum memahami sepenuhnya tugas dan panggilan Yesus.
Melalui peristiwa ini kita diajak untuk menyadari bahwa mengikuti Tuhan tidak selalu mudah. Ada kalanya kita disalahpahami, dikritik, atau dianggap berlebihan dalam beriman. Namun Yesus tidak berhenti melakukan kehendak Bapa. Ia tetap setia melayani dan mengasihi. Dari Yesus kita belajar untuk tidak mudah menyerah ketika iman kita tidak dimengerti. Kesetiaan kepada Tuhan lebih penting daripada mencari pengakuan manusia. Ada yang tetap memberi, membantu, dan peduli pada sesama meski hidupnya pas-pasan. Orang lain bisa berkata, “Mengapa bantu orang lain, hidupmu sendiri belum beres.” Namun iman kristiani mengajarkan bahwa kasih tidak menunggu keadaan sempurna.
Mari kita berani setia kepada panggilan Tuhan dan melakukan kebaikan, meskipun tidak selalu dimengerti oleh orang lain. Jangan biarkan penilaian orang lain melemahkan komitmen kita untuk tetap melakukan kehendak Allah.
Doa:
Ya Bapa, berilah kami rahmat-Mu agar mampu meneladan Yesus yang tetap setia melakukan kehendak-Mu walaupun disalahpahami. Kiranya Roh Kudus menuntun kami untuk lebih percaya kepada-Mu daripada kepada penilaian manusia. Amin. (klc)