Renungan Selasa, 27 Januari 2026.
2 Samuel 6: 12b-15, 17-19; Mzm 24: 7 -10; Mrk 3: 31 – 35.
Barang siapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku !” ( Markus 3:35)
Menyambut dan memperlakukan sesama sebagai saudara dengan penuh kehangatan, keakraban, keterbukaan dan cinta, itulah suatu pemberian yang sangat berarti dan menumbuhkan semangat hidup, memberikan rasa damai yang tak ternilai pada sesama saudara yang menerimanya. Suatu pemberian yang seharusnya dilakukan oleh semua orang yang mengaku sebagai murid Kristus.
Prinsip memandang semua orang sebagai saudara, kurang dipahami oleh masyarakat zaman now, mengingat saat ini zaman digitalisasi dimana teknologi informasi dan komunikasi menjadi inti kehidupan, mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, dan berinteraksi serta berkembang sangat cepat. Namun Firman Tuhan mengubah pandangan saya. Saudara bukan saja anggota keluarga yang memiliki hubungan darah, tetapi juga semua orang yang melakukan kehendak Allah, hidup saling mengasihi, menghargai, menghormati, dan saling menyayangi. Allah menghendaki kasih yang tidak di batasi oleh hubungan darah, kekerabatan, keluarga, suku, agama maupun budaya. tetapi syarat menjadi saudara Yesus adalah mendengarkan dan melaksanakan kehendak-Nya. Ketika disakiti, atau dibenci, mohon kepada Tuhan Yesus untuk memampukan mengampuni dan mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri ( Matius 22: 39 ). Ketika menghadapi persoalan dalam hidup yang membutuhkan pengorbanan, mari kita mengandalkan Dia, sebab Dia sanggup melakukan segala sesuatu yang mendatangkan keselamatan bagi kita dan itulah salah satu cara menjadi saudara Tuhan Yesus ( Markus 3: 35 ) .
Bapa surgawi, beri kami kemampuan untuk tetap menjaga martabat kami sebagai saudara Tuhan Yesus dan kami siap Engkau utus menjangkau banyak jiwa agar mengenal-Mu dan percaya bahwa hanya Yesuslah satu-satunya Juru Selamat bagi seluruh umat manusia sebab Engkaulah Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin. ( ECMW )