SEP Surabaya, Sentra Evangelisasi Pribadi

Renungan hari Selasa, 10 Februari 2026, Perayaan Wajib St. Skolastika

Bacaan: BcE 1Raj. 8:22-23,27-30Mzm. 84:3,4,5,10,11Mrk. 7:1-13

“… Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.” (Mrk 7:6b)

Dalam Injil hari ini Yesus mengkritik orang Farisi yang terlalu mementingkan adat istiadat lahiriah, seperti ritual mencuci tangan hingga melupakan esensi kasih.  Ketika orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bertanya kepada Yesus mengapa murid-murid-Nya tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang mereka, tetapi makan dengan tangan najis, mengutip dari nubuat nabi Yesaya, Yesus menjawab, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.”  Kata-kata ini menjadi pengingat keras bagi kita semua.

Hati adalah pusat keberadaan manusia, tempat di mana kita menjumpai Tuhan secara pribadi. Saat kita beribadah, mengikuti Perayaan Ekaristi, berdoa pribadi ataupun devosi, apakah gerakan tubuh, tanggapan, dan kata-kata yang kita ucapkan merupakan ungkapan iman yang keluar dari kedalaman hati kita? Ataukah kita melakukannya secara otomatis karena kita sudah hafal dan terbiasa?  Saya jadi teringat pada suatu saat di mana saya mengikuti Perayaan Ekaristi, saya mengucapkan syahadat ‘Aku Percaya’ dengan lancar, tetapi pikiran saya ke mana-mana. Juga saat alarm berbunyi pk. 12.00 mengingatkan saya untuk berdoa ‘Angelus’, saya spontan membuat tanda salib dan mendaraskannya, terkadang saya harus mengulanginya karena saya merasa yang pertama saya daraskan tidak dari hati saya, tetapi lebih merupakan sebuah hafalan. Santo Agustinus menekankan bahwa doa yang sejati berasal dari intensitas hati dan kasih, bukan sekedar kerasnya suara atau susunan kata-kata yang diucapkan.

Tuhan tidak mencari kesempurnaan ritual kita, tetapi kesetiaan hati kita. Tuhan ingin kita menyapanya, berinteraksi dan berelasi dengan-Nya dari kedalaman hati dan kerinduan kita. Tuhan ingin kita merasakan sapaan dan kasih-Nya di hati kita.

Doa: Tuhan kami mohon rahmat-Mu agar setiap doa yang kami ucapkan, setiap tanda salib yang kami buat sungguh-sungguh lahir dari hati yang rindu mendekat kepada-Mu. Amin. (H2W)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×