SEP Surabaya, Sentra Evangelisasi Pribadi

Renungan Harian, Jumat 21 Agustus 2026

Bacaan: Yeh 37:1-14; Mzm 107:2-3.4-5.6-7.8-9; Mat 22:34-40

“Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (Matius 22:36)                         

Dalam bacaan pertama, Nabi Yehezkiel dibawa Tuhan ke sebuah lembah yang penuh dengan tulang-tulang kering. Tulang-tulang itu menggambarkan bangsa Israel yang merasa sudah kehilangan harapan. Mereka berkata, “Tulang-tulang kami sudah menjadi kering, pengharapan kami sudah lenyap.” Secara manusiawi, tidak ada lagi yang dapat dilakukan. Tulang-tulang itu sudah lama kering dan berserakan. Tetapi Tuhan bertanya kepada Yehezkiel, “Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?”

Ketika pertanyaan ini ditujukan kepada kita, ada kalanya dalam kehidupan kita mengalami situasi yang terasa seperti “tulang-tulang kering”: hubungan yang retak, keluarga yang menjauh, kegagalan, kekecewaan, kehilangan semangat, atau hati yang sudah tidak memiliki harapan. Kita mungkin berpikir, “Sudah tidak mungkin diperbaiki.”

Namun, Tuhan menunjukkan bahwa tidak ada keadaan yang terlalu mati bagi kuasa-Nya. Ketika Yehezkiel bernubuat atas tulang-tulang itu, Tuhan memberikan kehidupan. Roh Allah masuk ke dalamnya, dan tulang-tulang yang kering itu hidup kembali.

Mazmur 107 juga mengingatkan kita bahwa Tuhan adalah Allah yang menyelamatkan mereka yang berseru kepada-Nya. Mereka yang tersesat dituntun-Nya ke jalan yang benar, mereka yang lapar dan haus dipuaskan-Nya.

Artinya, Tuhan bukan hanya sanggup menghidupkan kembali sesuatu yang telah mati, tetapi juga mencari, menuntun, dan memulihkan manusia yang kehilangan arah.

Injil hari ini membawa kita pada inti dari semuanya. Ketika Yesus ditanya tentang hukum yang terutama, Ia menjawab:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.”

Dan yang kedua:

“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Dari ketiga bacaan di atas, pesan yang esensial adalah: Allah memberikan kehidupan kepada kita bukan untuk kehidupan diri sendiri. Kita dihidupkan kembali oleh kasih Allah supaya kita juga menjadi pembawa kehidupan bagi orang lain.

Mungkin ada orang di sekitar kita yang sedang seperti tulang-tulang kering: kehilangan harapan, kesepian, terluka, kecewa, atau tidak lagi berarti. Barangkali mereka tidak membutuhkan nasihat yang panjang. Tetapi mereka mungkin hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan, menyapa, mengampuni, menemani, dan menunjukkan kasih. Karenanya, kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama.

Kita tidak dapat mengatakan bahwa kita mengasihi Tuhan, tetapi membiarkan kebencian terus tinggal di hati kita. Kita tidak dapat mengatakan bahwa kita dekat dengan Tuhan, tetapi tidak peduli terhadap penderitaan orang lain. Kasih adalah cara Tuhan menghidupkan dunia melalui kita.

Jangan takut membawa “tulang-tulang kering” dalam hidup kita kepada Tuhan. Jangan merasa bahwa keadaan kita sudah terlalu jauh untuk dipulihkan. Tuhan yang menghidupkan tulang-tulang kering masih bekerja sampai hari ini.

Berkat-berkat Tuhan menyertai kita semua. (FXST)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×