Renungan Harian Selasa 7 Januari 2025
1Yoh. 4:7-10; Mzm 72:2,3-4ab,7-8; Mrk. 6:34-44
Tetapi jawab-Nya: “Kamu harus memberi mereka makan!” (Mrk 6: 37a)
Allah adalah kasih, setiap tindakan yang Allah lakukan untuk manusia karena kasih. Kedatangan Yesus ke dunia adalah bukti nyata kasih Allah. Yesus datang ke dunia untuk
menyelamatkan manusia. Kematian-Nya memberi hidup kepada manusia yang percaya pada-Nya, dan ini bukan karena manusia mengasihi Allah. Oleh sebab itu kita tidak dapat memahami kasih Allah jika itu dilepaskan dari kematian Yesus di kayu salib.
Dalam Perikop yang baru saja kita dengar, melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus
oleh belas kasihan. Berbicara tentang belas kasihan, belas kasih bukanlah hal yang asing
bagi kita. Setiap kita pernah dan mudah untuk merasa belas kasih ketika mendengar atau
melihat hal yang menyentuh hati. Namun berbelas kasih saja tidaklah cukup, karena hanya
sampai pada perasaan saja. Kita lihat Yesus, ketika Yesus melihat banyak orang terlantar
bagaikan domba tanpa gembala, orang-orang yang haus akan Firman Tuhan, tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan. Tapi tidak berhenti sampai disitu, Yesus
merasakan penderitaan yang mereka alami dan kesengsaraan yang dialami oleh manusia
itu sebagai sengsaraNya sendiri juga. Dan belas kasihan–Nya akan kesengsaraan umat manusia yang membawanya di kayu salib untuk membawa sukacita yang dari Tuhan.
Yesus memandang belas kasihan-Nya kepada orang banyak itu adalah sebagai “pekerjaan menuai”.
Belas kasihan yang diperlihatkan oleh Tuhan Yesus adalah belas kasihan yang active
bukannya passive, hati Yesus tergerak sehingga Ia pun bertindak dengan melakukan mujizat
dan pengajaran kepada mereka. Inilah yang harus ditiru oleh pengikut Kristus yaitu belas
kasihan melalui perbuatan dan tidak hanya perasaan iba, melainkan diwujudkan dalam
tindakan sehari hari. Dimana belas kasihan tidak hanya sekedar perkataan atau pun
perasaan, tetapi belas kasihan itu adalah alat yang harus digunakan.
“Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit”. Janganlah hanya memiliki rasa kasihan tanpa perbuatan
nyata.Bagaimana mungkin sabit itu akan dikatakan alat penuai jika tidak digunakan? Tidak
ada bedanya dengan besi tua yang tidak berguna!.Bagaimana mungkin kita dikatakan
pengikut Kristus yang memiliki kasih jika tidak mewujudkan kasih itu dalam kehidupan kita.
Jika Yesus dapat melakukan hal yang luar biasa dengan keadaan yang begitu terbatas, Ia
pun dapat melakukan hal yang sama bagi hidup kita. Jika kita memiliki sesuatu yang kita
anggap tidak berarti, tetapi kita ingin melayani orang lain melalui milik kita itu, kita bisa
letakkan di tangan Yesus. Ia dapat melakukan hal besar dengan karunia dan talenta yang
ada pada kita untuk menyentuh hidup orang lain.
Injil hari ini sungguh memperlihatkan bahwa ungkapan kasih dan kerinduan akan Allah
melalui sesama tidak harus selalu menunggu datangnya proyek-proyek besar kemanusiaan,
dengan agenda yang begitu menakjubkan, tetapi selalu terjadi dalam pertemuan sehari-hari
dengan mereka yang kelaparan dan menderita, dengan mereka yang kita jumpai setiap
saat, setiap hari. Demikian-lah, ungkapan kasih selalu memegang teguh prinsip: di sini dan
sekarang sebagaimana perkataan Yesus pada para murid, “Kamu harus memberi mereka
makan (sekarang)!
DOA
Tuhan Yesus, Engkaulah Roti Hidup yang turun dari Surga, Roti yang yang mampu
berani menjadi roti yang dapat di bagi-bagi dan tumbuhkanlah dalam diri kami rasa belas
kasih kepada sesama sehingga kami dapat berbagi dengan sesama kami tanpa menunggu
kelebihan/kemewahan , terpujilah Engkau, ya Tuhan, kini dan sepanjang segala masa.
Amin.
SWW