Renungan hari Senin, 19 Januari 2026, Pekan Doa Sedunia Hari ke-2
Bacaan: 1Sam. 15:16-23; Mzm. 50:8-9, 16bc-17,21,23; Mrk. 2:18-22.
Tetapi jawab Samuel: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.” (1 Samuel 15:22)
Dari teguran yang dinyatakan Allah melalui Samuel kepada Saul dan yang membuat Raja Saul ditolak sebagai raja (ayat 23), dapat kita renungkan bagaimana Raja Saul lebih mementingkan pikiran dan keinginan sendiri yang dianggapnya baik daripada mendengarkan dan melakukan kehendak Allah.
Belajar dari pengalaman Raja Saul, kita dapat memeriksa batin kita, sejauh mana kita selalu berusaha mendengarkan dan melakukan kehendak Allah? Apakah dalam hubungan kita dengan Allah, baik dalam doa, latihan rohani, pelayanan, atau dalam hidup sehari-hari yang berusaha terus kita hayati bersama Allah, kita sungguh-sungguh berusaha mencari, mengenal, dan melaksanakan kehendak Allah atau selama ini kita hanya mengikuti keinginan, selera, atau kehendak kita sendiri?
Ada suatu pengalaman rohani yang dialami seorang imam Dominikan, Beato Henry Suso, OP (1295-1366):
Sebagai imam yang bersemangat, Romo Henry Suso, OP juga berusaha melakukan matiraga yang keras dan ekstrem. Pada zaman itu memang berkembang matiraga yang keras, seperti mencambuk diri, merantai diri, dan lain-lain; tetapi Romo Henry Suso, OP berusaha lebih keras dan ekstrem dalam matiraga dengan membuat beberapa alat penyiksaan untuk dirinya sendiri, antara lain: pakaian dalam yang dipenuhi seratus lima puluh paku kuningan, ranjang yang sangat tidak nyaman untuk tidur, dan salib dengan tiga puluh jarum dan paku yang menonjol di bawah tubuhnya saat ia tidur. Matiraga yang keras dan ekstrem, membuat banyak orang mengaguminya dan menganggap dia sebagai orang suci.
Sampai suatu ketika Tuhan Yesus menampakan diri kepadanya dalam suatu pengalaman doa dan meminta Romo Henry Suso, OP menanggalkan dan melepaskan semua matiraga keras dan ekstrem yang dia jalankan, “Henry dengan apa yang kamu lakukan selama ini, kamu seperti seorang prajurit. Dan Aku menghendaki kamu untuk menjadi perwira, karena itu tanggalkan dan lepaskan semua matiragamu yang keras dan ekstrem itu,” dan Romo Henry Suso, OP berusaha taat dan melakukan apa yang diperintahkan Tuhan.
Dan apa yang terjadi? Ketika dia menaati perintah Tuhan dan menanggalkan semua matiraga yang keras dan ekstrem itu, serentak semua orang mencemooh dia, menganggap orang yang dianggap suci ini sudah mundur, kehilangan semangat, jatuh dalam kesuaman, dan sebagainya. Sesungguhnya di sini Romo Henry Suso, OP mulai menjalani jalan perwira sesuai perintah Tuhan. Bukan kekaguman dan pujian yang dia dapatkan melainkan kekecewaan, caci-maki, dan anggapan bahwa dia mundur dan kehilangan semangat. Di sini dia mengalami matiraga batiniah, dan dia berusaha menyatukannya dengan salib Kristus, menanggungnya bersama Kristus, dan demi kasih kepada Kristus. Suatu proses yang harus dia jalani, tetapi lambat laun orang-orang mulai menyadari kehidupan dan pengalaman batin yang mendalam yang dialami Romo Henry Suso, OP.
Suatu ungkapan Beato Henry Suso, OP yang terkenal yang lahir dari pengalaman batinnya: “Lebih baik menjadi cacing tanah di dunia ini karena kehendak Allah, daripada menjadi malaikat di dunia ini, tetapi bukan karena kehendak Allah”.
Dari pengalaman Raja Saul dan Beato Henry Suso, OP ini kita dapat belajar dan merenungkan betapa pentingnya menghayati hidup sesuai kehendak Allah, dengan selalu mencari, mengenali, dan melaksanakan kehendak Allah. Amin. (ET)