Renungan Rabu, 04 Februari 2026
Bacaan: 2Sam. 24:2,9-17; Mzm. 32:1-2,5,6,7; Mrk. 6:1-6
Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. (Markus 6:3c)
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, ayat ini membawa kesadaran bagi kita bahwa penolakan terhadap Yesus telah terjadi sejak awal Yesus berkarya dan terus berlangsung sampai saat ini.
Saat Yesus mewartakan Diri-Nya di Nazaret, orang-orang menolak Dia karena mereka mengenal Yesus sejak kecil dalam keseharian-Nya. Mereka tidak percaya bahwa hal-hal besar dapat terjadi pada diri Yesus hanya karena kehidupan sederhana Yesus yang sudah mereka kenal. Mereka akan percaya jika Yesus berasal dari negeri antah-berantah yang asing bagi mereka.
Bangsa Yahudi sampai saat ini menolak Yesus karena mereka gagal mengenali sosok Yesus sebagai Mesias. Mereka tidak percaya bahwa Mesias yang telah mereka nantikan sejak lama bisa hadir sebagai seorang biasa dan bahkan mati dengan cara yang memalukan. Menurut kacamata mereka, seharusnya Mesias adalah orang yang punya kekuatan politik dan gemerlap dunia.
Saat ini kita—setelah Yesus menyatakan Diri-Nya dengan sangat jelas, dan kita mengaku beriman kepada-Nya—kita pun masih sering kali gagal untuk melihat sosok Pembebas, Penyelamat, Pemberi Kehidupan, dan Sumber Harapan bagi kita. Kita sering kali gagal bersandar penuh pada rancangan yang Dia siapkan, gagal menaruh harapan pada janji yang Dia sampaikan kepada kita semua.
Kita masih sering mengharapkan pembebasan dan damai sejahtera dari sumber-sumber duniawi yang semakin menekan. Tidak jarang kita bersandar pada kekayaan, kesehatan, reputasi, atau pengakuan orang lain untuk menjadi bahagia. Akibatnya, kita akan semakin terjerat, tidak bebas, dan gagal mencapai damai sejahtera.
Kegagalan mengenal Yesus dari awal sampai saat ini disebabkan karena kacamata batin yang digunakan untuk menilai Yesus adalah kacamata ukuran yang kita ciptakan dan tentukan, bukan menurut ukuran Allah Sang Pencipta yang telah menentukan yang baik bagi kita.
Saudara-saudara terkasih, marilah kita berani menanggalkan kacamata kita dan mengenakan kacamata Allah sehingga kita dapat berserah dan bersandar pada penyelenggaraan Allah dalam hidup kita. Maka kita dapat melihat karya Allah yang mengantar kita pada damai sejahtera, penuh sukacita, walaupun sedang melintas berbagai badai kehidupan.
Doa:
Allah Bapa, karuniakanlah kepada kami Roh Kebijaksanaan sehingga kami dapat melihat segala peristiwa yang terjadi sebagaimana Engkau inginkan, dan karena itu berani menyerahkan diri kami sepenuhnya pada pimpinan dan penyelenggaraan-Mu. Semua ini kami mohon kepada-Mu dalam persatuan dengan Roh Kudus dan demi Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.
(LSL)