Renungan hari Jumat, 1 Mei 2026, Pekan IV Paskah.
Bacaan: Kis 13:26-33; Mzm 2:6-7.8-9.10-11; Yoh 14:1-6.
“… janji yang diberikan kepada nenek moyang kita, telah digenapi Allah kepada kita,…” (Kis 13:32-33a)
Kesetiaan Allah dan Jalan Keselamatan
Saulus, yang dulunya adalah penganiaya jemaat Kristus, mengalami transformasi luar biasa menjadi Paulus setelah perjumpaan pribadi dengan Yesus dalam perjalanannya ke Damaskus. Ia bertransformasi menjadi rasul yang gigih mewartakan kebenaran. Dalam khotbahnya, Paulus mengingatkan bahwa meski penduduk Yerusalem dan para pemimpin mereka telah menghukum mati Yesus karena ketidaktahuan, Allah justru memakai peristiwa itu untuk menggenapi rencana-Nya.
Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus membuktikan bahwa janji Allah kepada leluhur telah terpenuhi. Kebangkitan Yesus bukanlah isapan jempol, Ia disaksikan oleh para rasul dan banyak orang. Peristiwa inilah yang memicu gelombang pertobatan besar-besaran, di mana orang-orang berbondong-bondong memberi diri dibaptis. Namun, di tengah sukacita itu, selalu ada kelompok yang tetap bertegar tengkuk dan memelihara gengsi di atas iman.
Yesus: Satu-Satunya Jalan
Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan identitas-Nya: “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.” Tidak ada jalan lain menuju Bapa selain melalui Dia. Yesus menawarkan jalan keselamatan secara cuma-cuma, namun kebebasan manusia sering kali disalahgunakan untuk menolak tawaran kasih tersebut.
Ketidakpercayaan dan penolakan terhadap Sang Jalan inilah yang sering kali menjadi akar kekacauan dunia. Perang, perebutan kekuasaan, dan egoisme para pemimpin adalah cermin dari hati yang jauh dari prinsip kasih Kristus. Sebagai umat beriman, kita mungkin bertanya: “Mengapa Tuhan? Sampai kapan semua ini terjadi?”
Menanti Waktu Tuhan
Kitab Suci mengingatkan kita melalui perumpamaan gandum dan lalang. Keduanya dibiarkan tumbuh bersama sampai musim menuai tiba. Allah memberikan kesempatan bagi semua orang untuk bertobat.
Tugas kita bukanlah menghakimi “si lalang“, melainkan:
- Tetap menjadi gandum yang berbuah di tengah dunia yang kacau dengan terus menerus mewartakan janji Allah yang sudah digenapi.
- Terus memohonkan rahmat pertobatan bagi mereka yang masih keras hati.
- Menjaga pengharapan bahwa pada akhirnya, kebenaran Allah akan menang.
Mari kita menantikan “musim menuai” dengan setia, sambil terus menjadi pembawa damai di mana pun kita berada.
Tuhan memberkati.
-ppt-