SEP Surabaya, Sentra Evangelisasi Pribadi

Renungan Selasa 5 Mei 2026

Bacaan: Kis 14:19-28; Mzm 145:10-11.12-13ab.21; Yoh 14:27-31a

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. (Yohanes 14:27)

Pada pagi hari, bertepatan dengan hari raya Idul Fitri pertama [Sabtu, 21 Maret 2026], saya ditelepon seorang saudara seiman yang sudah lanjut usianya dan tidak punya keluarga. Teman saya ini minta dipanggilkan dokter, karena pagi itu dia pingsan dan jatuh di kamar mandi. Kakinya amat sakit sekali dan sulit untuk digerakkan. Tanpa pikir panjang, saya minta nomor HP seorang dokter yang biasa dipanggil untuk mengobati teman mama saya, dan telepon saya tersebut langsung diterima oleh dokter tersebut. Ia sanggup untuk datang ke rumah teman saya itu siang harinya, karena saat ini ia masih bersilaturahmi di rumah keluarganya.

Namun, saat dokter datang ke rumah teman saya dan sambil merawat teman saya tersebut, sang dokter mengatakan bahwa biasanya ia tidak pernah menerima telepon yang tidak ia kenal. Biasanya ia minta untuk di-WA dahulu dan menceritakan sekilas keluhan calon pasiennya. Ia sendiri heran mengapa secara spontan ia menerima telepon dengan nomor yang tidak ia kenal ini.

Saya langsung katakan pada teman saya bahwa Tuhan Yesus sangat mengasihi dia. Tuhan hadir dan menyertai kita semua melalui dokter yang merawatnya saat ini. Inilah wujud kasih dan penyertaan Tuhan Yesus yang walaupun tidak bisa kita lihat secara kasatmata, namun penyertaan-Nya sungguh kita rasakan.

Karena itu, Yesus dengan tepat menasihatkan supaya jangan gelisah dan gentar hatimu. Yesus berkata demikian karena Ia memberikan damai sejahtera kepada murid-murid-Nya. Damai sejahtera yang dimaksud adalah jaminan penyertaan-Nya dalam Roh Kudus. Roh Kudus sendiri yang akan diberikan kepada para murid-Nya. Itulah damai sejahtera sejati yang tidak dapat diberikan dunia.

Saudaraku, kedamaian tidak tergantung pada apa yang kita miliki, tetapi bagaimana kita menjalani hidup ini. Rasul Paulus [dalam bacaan pertama] menjadi teladan dalam hal ini. Walaupun mengalami perlawanan dan penolakan ketika memberitakan Injil Tuhan kita Yesus Kristus, Paulus tetap dengan setia menguatkan dan menghibur jemaat untuk tetap setia dan bertekun dalam iman akan Yesus Kristus.

Paulus sadar dan tahu bahwa Yesus bersamanya, dan untuk masuk Kerajaan Surga, kita menghadapi rupa-rupa kesulitan dan penderitaan. Yesus juga mengalami penderitaan, disalibkan, wafat, dan bangkit dengan mulia.

Saudaraku, bacaan-bacaan hari ini mengingatkan sekaligus mengajak kita untuk:

Pertama: Setia dan tekun bertahan dalam pekerjaan baik sekalipun rupa-rupa kesulitan dan tantangan yang dihadapi.

Kedua: Yakinlah bahwa Yesus Kristus tetap menyertai kita dalam Roh Kudus di setiap langkah kehidupan kita. Itulah jaminan damai sejahtera, bahwa Allah tidak meninggalkan kita sendirian dalam peziarahan hidup ini. Kesadaran bahwa Allah selalu beserta kita inilah yang menjadi sumber kebahagiaan dan kedamaian dalam menjalani hidup ini.

DOA:
Ya Bapa, curahkanlah rahmat damai sejahtera dalam hidupku dan jadikanlah aku pembawa damai bagi sesamaku. Amin. (MLEN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×