SEP Surabaya, Sentra Evangelisasi Pribadi

Renungan hari Senin, 18 Mei 2026, Pekan VII Paskah.

Bacaan: Kis 19:1-8Mzm 68:2-3.4-5ac.6-7abYoh 16:29-33.

Katanya kepada mereka: “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?” Akan tetapi mereka menjawab dia: “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus.” (Kis 19:2)

Bagi kita umat Gereja Katolik terkadang untuk menjelaskan tentang Allah Roh Kudus kita mengalami kesulitan untuk mendeskripsikan sifat ke-Allahannya. Tetapi kita mudah menjelaskan tentang Allah Putra, bahkan kita bisa napak tilas ke tempat di mana Yesus lahir, di mana Yesus dibesarkan, di mana Yesus menderita, disalibkan, dan bangkit. Biasanya orang menggambarkan dan mengenal Allah Bapa sebagai Allah Pencipta. Sedangkan Allah Roh Kudus dalam bayangan kita sering digambarkan sebagai burung merpati meskipun penggambaran dalam KGK 694 hingga 701 ada banyak rupa selain merpati. Roh Kudus dilambangkan dengan lidah api, air, urapan, awan dan sinar, meterai, tangan dan jari. Kesulitan mengenalkan dan mengajarkan Roh Kudus ini ternyata juga tertulis dalam Kisah Para Rasul, ketika Paulus sampai di Efesus dia tahu bahwa banyak umat tidak mengenal Roh Kudus, bahkan tidak pernah mendengar tentangnya.

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus menjelaskan kepada para murid-Nya tidak lagi menggunakan perumpamaan, dan saat itu para murid diingatkan akan adanya penderitaan bagi Diri-Nya dan juga bagi mereka. Ia juga mengingatkan para murid, Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” Dan ketika Yesus telah bangkit, Ia menampakkan diri kepada para murid-Nya, seperti  tertulis dalam Yohanes 20:21-22: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus.” Dan Roh Kudus yang sama juga kita terima ketika kita menerima Sakramen Baptis.

Melalui bacaan hari ini kita diingatkan bahwa kita memang tidak seperti para murid yang langsung mengenal Yesus sebagai pribadi, melainkan melalui ajaran para murid dan cara pembaptisan yang kita terima secara benar. Kita semua diingatkan bahwa hidup di dunia adalah sementara. Kita sebagai anak-anak Allah hidup dalam dunia ini akan mengalami penderitaan tetapi Allah yang Mahakasih tidak pernah meninggalkan kita sendirian, Ia memberikan Allah Roh Kudus yang selalu menyertai kita dalam perjuangan hidup kita. Kita diingatkan oleh ajaran Santo Agustinus “Ubi ergo vides caritatem, vides Trinitatem” yang artinya di mana engkau melihat kasih, di situ engkau melihat Tritunggal. Jadi Allah Tritunggal yang Mahakasih selalu menyertai kita dalam perjalanan hidup kita di dunia dan tidak pernah meninggalkan kita sendirian.

Mari kita berdoa: Ya Bapa, utuslah Roh Kudus memenuhi hati kami umat-Mu dan menyalakan di dalamnya api cinta-Mu. Utuslah Roh-Mu maka semuanya akan dicipta kembali dan Engkau akan membarui muka bumi. Ya Allah, Engkau telah mengajar hati umat-Mu dengan penerangan Roh Kudus, semoga berkat penyertaan Roh yang kudus ini kami senantiasa berpikir benar, bertindak bijaksana, serta selalu bergembira karena penghiburan-Nya. Demi Kristus, Tuhan kami. PS 147. (AlX)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×