Renungan Rabu, 17 Juni 2026
Bacaan: 2Raj 2:1.6-14; Mzm 31:20.21.24; Mat 6:1-6.16-18.
“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga.” (Matius 6:1)
Masihkah aku membutuhkan ‘likes’ dan pujian manusia saat menjalankan kewajiban agamaku?
Ketika keinginan untuk dihormati menjadi tujuan utama melaksanakan kewajiban agama kita, maka saat itulah sebenarnya relasi kita dengan Tuhan sedang bermasalah.
Sadarkah kita bahwa saat ini godaan untuk menggunakan kewajiban agama sebagai cara terlihat saleh oleh orang lain sangatlah kuat. Di era digitalisasi ini tersedia berbagai perangkat untuk memfasilitasi hasrat tersebut, yakni dengan beragam media sosial yang kita punyai, kita dapat dengan mudah memamerkannya dengan tujuan untuk mendapatkan ‘likes’ atau pujian.
Kita seharusnya paham bahwa Allah telah menyelamatkan kita. Sehingga, bersedekah, berdoa, dan berpuasa seharusnya menjadi sebuah ungkapan syukur pribadi kepada Allah yang didasari relasi intim dengan-Nya. Kiranya kita dimampukan untuk mengenali dan melawan hasrat memamerkan segala kewajiban agama yang kita lakukan.
Yesus memperingatkan agar kita tidak melakukan perbuatan rohani (seperti memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa) hanya untuk pamer atau mencari pujian manusia. Saat melakukan kebaikan, hendaknya kita lakukan dengan sembunyi-sembunyi dan dengan niat yang tulus dan murni. Tuhan yang melihat apa yang tersembunyi akan memberikan upah yang sejati kepada kita.
Doa:
Terima kasih, Tuhan, untuk mengingatkan kami bahwa tidaklah mudah untuk menjadi murid-Mu yang rendah hati. Tetapi semua itu mungkin karena pertolongan-Mu melalui Roh Kudus yang telah Kaucurahkan ke dalam hati setiap kami. Mampukan kami untuk menjaga kekudusan hati kami dengan melakukan kewajiban agama kami dengan niat hati yang tulus dan murni hanya demi kemuliaan-Mu dan tanda kasih kami kepada-Mu.
Demi Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang segala masa. Amin. (end)