Renungan Sabtu, 20 Juni 2026
Bacaan: 2Taw 24:17-25; Mzm 89:4-5.29-30.31-32.33-34; Mat 6:24-34.
“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? (Matius 6:25)
Biasanya manusia khawatir akan kebutuhan hidup, kesehatan, usaha/pekerjaan, pendidikan, hubungan keluarga/sosial, jodoh, masa depan dan lainnya. Kekhawatiran ini bisa menggerogoti daya/energi hidup seseorang sehingga tidak mampu berpikir jernih atau cenderung berpikir negatif. Bahkan bisa dikategorikan penyakit mental (gangguan kecemasan) jika sudah berlebihan dan tidak masuk akal.
Allah melarang kita untuk khawatir akan hidup, termasuk hal-hal yang mendasar sekalipun seperti apa yang akan kita minum, makan, dan pakai. Sebab kekhawatiran juga akan merampas damai sejahtera dan rasa syukur. Biasanya orang yang khawatir tidak mampu lagi melihat atau merasakan berkat Allah. Bahkan mungkin lupa akan Allah. Akibatnya iman percaya pun bisa sirna.
Suatu kali, ibu saya tidak mempunyai uang sehingga terlambat 2 minggu, mengirimkan uang bulanan untuk adik perempuan saya yang kuliah di Yogyakarta. Pembayaran uang kost bisa ditunda, tapi biaya makan hanya tersisa uang untuk 2 hari. Saat itu adik saya percaya kalau bunga Bakung di ladang dan burung di udara saja Tuhan pelihara, apalagi dia yang notabene anak-Nya. Jadi setiap hari dia menyanyikan lagu sekolah Minggu “Jangan Kamu Khawatir” dengan penuh iman.
Ternyata cara Tuhan memelihara dia bukan dengan membantu ibu saya supaya segera mendapatkan uang atau menggerakkan hati teman-teman kost/kuliahnya untuk meminjamkan uang. Tetapi melalui para anggota koor di Lingkungan. Waktu itu latihan koor harus intensif karena harus tampil di hari raya Paskah. Setiap kali pulang latihan koor, adik saya selalu dibungkuskan semua makanan yang berlebih untuk dibawa pulang dengan alasan “kasihan dia anak kost”.
Alhasil selama 2 minggu itu dia selalu punya persediaan makanan dari tuan rumah dengan menu makan malam yang berbeda. Padahal biasanya mereka hanya menyediakan kudapan atau kue.
Pengalaman ini membuat adik saya semakin percaya bahwa Bapa sungguh-sungguh Jehovah Jireh (Allah yang memelihara).
Manusia lebih dari bunga Bakung di ladang atau burung di udara yang Tuhan pelihara. Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang berakal budi, kita mampu berkomunikasi dengan Allah Bapa melalui doa dan membaca/mendengarkan firman-Nya. Dari situ iman kita dapat semakin bertumbuh. Bukan sebaliknya, dengan akal budi justru semakin membuat khawatir.
Ada baiknya Firman Tuhan juga kita afirmasikan setiap hari sesering mungkin sampai menjadi Rhema. Atau lebih menarik jika dinyanyikan. (L.O)