SEP Surabaya, Sentra Evangelisasi Pribadi
Renungan Senin,  22 Juni 2026
1 Raj 17:5-8;13-15a.18; Mzm 60: 3.4-5.12-13; Mat 7:1-5
“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. (Matius 7: 1-2)
Shalom, saudara-saudari terkasih dalam Kristus. Hidup di tengah dunia modern yang penuh opini cepat dan komentar instan membuat kita mudah sekali menilai orang lain tanpa memahami konteks dan hati mereka. Sering kali kita begitu cepat menunjuk kesalahan sesama, tanpa menyadari bahwa mungkin kitalah yang justru perlu diperiksa terlebih dahulu. Firman Tuhan hari ini dari Matius 7:1–5 mengingatkan kita bahwa kasih sejati tidak pernah datang bersama vonis, melainkan dengan kerendahan hati dan kesadaran akan kasih karunia yang telah kita terima dari Allah.
Ada sebuah kisah menarik tentang seorang kakek yang mengeluh pada dokternya bahwa istrinya kini sulit mendengar. Setelah disarankan untuk menguji pendengaran sang istri dari jarak tertentu, si kakek pun mencobanya, tetapi tak ada respons hingga akhirnya ia berdiri tepat di belakang istrinya. Ternyata, justru sang kakek yang mengalami gangguan pendengaran! Kisah sederhana ini mencerminkan realita hidup kita: sering kali kita mengira masalahnya ada pada orang lain, padahal sebenarnya ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam diri kita sendiri.
Tuhan Yesus tidak melarang kita untuk menilai atau memberi koreksi, tetapi Ia memperingatkan kita agar tidak memakai ukuran yang keras, apalagi penuh kesombongan dan tanpa kasih. Ketika kita menilai orang lain dengan kasar, tanpa empati dan pengertian, sesungguhnya kita sedang menyiapkan ukuran yang sama bagi diri sendiri di hadapan Tuhan.
Penghakiman dalam konteks ini bukan sekadar penilaian, melainkan sikap hati yang merasa lebih benar dan berhak menentukan nilai hidup orang lain. Tuhan Yesus ingin kita berhati-hati, sebab menghakimi orang lain tanpa kasih berarti kita mengambil posisi Allah — Sang Hakim yang sejati. Ketika kita menuduh, merendahkan, atau mengutuk orang lain, sesungguhnya kita sedang menempatkan diri di kursi penghakiman yang bukan milik kita. Sebagai murid Kristus, kita dipanggil bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mengasihi. Koreksi tetap diperlukan, tetapi harus dilakukan dengan kerendahan hati dan kasih yang memulihkan, bukan menyakiti. Kasih tanpa vonis bukan berarti meniadakan kebenaran, melainkan menyampaikannya dengan kelembutan dan kesadaran bahwa kita pun adalah penerima kasih karunia yang sama. Kasih tanpa vonis mengajak kita untuk terlebih dahulu menundukkan diri di hadapan Allah, meminta Dia menyelidiki hati kita dan membersihkan setiap motivasi yang salah. Hanya dengan mata hati yang telah dimurnikan, kita dapat menolong sesama dengan kasih, bukan dengan penghakiman. Kasih sejati tidak melabeli atau menghakimi, melainkan menuntun dan memulihkan dengan kelembutan.
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau mengajari aku tentang Hak Penghakiman, ampunilah aku orang berdosa yang sering kali menghakimi sesama dan merasa lebih unggul dari orang lain , tambahkanlah iman ku setiap hari. Amin. (SWK)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×