Renungan Kamis, 9 Juli 2026
Bacaan: Hos 11:1b.3-4.8c-9; Mzm 80:2ac.3b.15-16; Mat 10:7-15.
“Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.” (Matius 10:10)
Adalah wajar bila seorang yang bekerja mendapat upah. Namun, dalam hal ini ada sesuatu yang tampak di luar nalar manusia adalah pekerja Kristus diberi larangan untuk membawa harta benda, bahkan bekal, makanan, dan lain-lain, sekalipun itu adalah benda yang penting, seperti kasut (sandal) dan tongkat. Bukankah Israel terletak di daerah yang panas, dan tongkat dapat digunakan sebagai alat bantu berjalan, bahkan sebagai alat perlindungan dari binatang buas?
Yesus menekankan agar para murid tidak mengandalkan apa pun, bahkan benda yang sepenting apa pun, kecuali bergantung pada-Nya. Dengan demikian, mereka akan menerima upah.
Suatu ketika Tuhan mengizinkan saya melayani di Timor Leste. Banyak hal di sana ternyata tidak seperti saat melayani di Indonesia yang mungkin lebih nyaman dan memiliki banyak teman pelayanan. Pada waktu itu saya merasa kekurangan pekerja, dan kondisi di sana serba sederhana. Bahkan, saya sendiri kurang enak badan mengingat cuaca yang sangat panas dan sulitnya mencari obat di sana.
Namun, anehnya, selama beberapa hari pelayanan, saya banyak melihat penyertaan Tuhan yang mencukupkan segala sesuatu. Bahkan, Tuhan membuat saya sehat tepat pada waktu saya harus melayani. Saya juga menyaksikan berbagai mukjizat kesembuhan yang dinyatakan Tuhan selama pelayanan.
Kami pulang ke Indonesia dengan sukacita karena sekalipun kami terbatas dalam banyak hal, Tuhan menunjukkan kemurahan-Nya sehingga umat juga mengalami sukacita yang tak terbendung. Itulah upah kami, yaitu Tuhan sendiri yang menyertai kami sehingga semua orang boleh memuji Tuhan dan kebaikan-Nya. (HW)