SEP Surabaya, Sentra Evangelisasi Pribadi

Renungan hari Rabu, 22 Juli 2026, Pesta St. Maria Magdalena.

Bacaan: Kid. 3:1-4a atau 2Kor. 5:14-17Mzm. 63:2,3-4,5-6,8-9Yoh. 20:1.11-18.

Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!”, artinya Guru. (Yohanes 20:16)

Kebangkitan Yesus bukan hanya peristiwa yang mengalahkan maut, tetapi juga peristiwa perjumpaan pribadi. Yesus tidak memberikan penjelasan panjang kepada Maria Magdalena. Ia hanya memanggil namanya, “Maria!” Satu kata itu cukup untuk membuka mata hati Maria. Ia langsung mengenali suara Gurunya dan menjawab, “Rabuni!”

Sebelumnya, Maria berdiri di dekat makam sambil menangis. Air mata dan kesedihan membuatnya tidak mampu mengenali Yesus, bahkan mengira-Nya sebagai penjaga taman. Hal ini menunjukkan bahwa kesedihan, kekecewaan, atau kekhawatiran sering kali mengaburkan pandangan rohani kita. Tuhan sebenarnya hadir di dekat kita, tetapi hati yang dipenuhi beban membuat kita sulit menyadari kehadiran-Nya.

Yang dapat mengubah semuanya adalah panggilan Yesus yang bersifat pribadi. Tuhan mengenal setiap domba-Nya dan memanggil mereka satu per satu. Setiap orang dicintai dan dikenal secara mendalam oleh-Nya. Jawaban Maria, “Rabuni,” merupakan ungkapan iman dan kasih. Ia tidak hanya mengenali suara Yesus, tetapi juga kembali menyerahkan dirinya sebagai murid kepada Sang Guru. Pertemuan itu mengubah air mata menjadi sukacita, keputusasaan menjadi harapan, dan kesedihan menjadi semangat untuk mewartakan kabar kebangkitan kepada para murid.

Sebagai orang Katolik, pengalaman Maria mengingatkan kita bahwa Yesus yang bangkit masih terus memanggil nama kita hingga hari ini. Ia berbicara melalui Sabda Allah, doa, Ekaristi, suara hati, dan berbagai peristiwa kehidupan. Pertanyaannya bukan apakah Tuhan berbicara, tetapi apakah kita menyediakan hati yang hening untuk mendengarkan suara-Nya.

Ketika kita datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati, Ia akan membuka mata iman kita untuk mengenali kehadiran-Nya, bahkan di tengah air mata dan pergumulan. Seperti Maria Magdalena, kita dipanggil bukan hanya untuk mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus, tetapi juga menjadi saksi kebangkitan-Nya di tengah keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakat.

Tuhan Yesus yang bangkit, panggillah namaku setiap hari agar aku semakin mengenal suara-Mu. Bukalah mata hatiku supaya aku mampu melihat kehadiran-Mu dalam Sabda, Ekaristi, dan setiap peristiwa hidupku. Jadikan aku saksi sukacita kebangkitan-Mu bagi semua orang. Amin. (BDH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×