Renungan hari Jumat, 24 Juli 2026, Pekan Biasa XVI.
Bacaan: Yer 3:14-17; MT Yer. 31:10.11-12ab.13; Mat 13:18-23.
“Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah,” (Matius 13:23)
Mendengar firman sering dijumpai dalam berbagai kesempatan. Dalam perayaan Ekaristi, melalui renungan harian, atau Lectio Divina. Bagaimana perlakuan kita terhadap firman yg didengar itu?
Saya sering mendengar homili yang sangat bagus dan merasa sungguh terberkati. Namun yang saya sesali adalah tidak merekam atau mencatatnya. Bila saya diminta mengulang poin yang diterima, terkadang ada banyak hal yang terlupakan. Padahal saat mendengarnya saya sudah berusaha mencatat dalam pikiran. Ternyata sangat terbatas kemampuan saya untuk menyerap.
Homili itu sudah diterima dengan gembira. Ada kesan mendalam. Namun sering berlalu setelah kita pulang dari gereja. Mungkin teringat beberapa saat, namun dengan berjalannya waktu, pikiran kita lebih fokus pada hal-hal lain, atau perhatian pada kegiatan-kegiatan lain, maka semua jadi terlupakan.
Ada gerakan baru yang dicetuskan oleh Father Mike Schmidt yaitu untuk mencatat homili. Tidak lazim, namun ide yang baik. Bagaimana kita bisa memelihara benih yang sudah ditaburkan?
Membaca firman bukan hanya untuk menambah pengetahuan saja. Namun bagaimana firman itu dapat diterima, dipelihara, dan diterapkan dalam kehidupan kita. Butuh usaha lebih daripada sekedar membaca atau mendengar. Bagaimana agar firman itu dapat tertanam kuat. Bagaimana agar saya bisa menerimanya. Kadang kala saya belum mampu melaksanakannya. Apa yang dikehendaki Tuhan, terkadang tidak sesuai dengan keinginanku. Bagaimana firman itu dijalankan dan membuatnya menjadi suatu kebiasaan yang mendarah daging. Pergumulan ini sebaiknya menjadi agenda rutin. Memeriksa diri, menyediakan waktu tenang untuk refleksi, serta doa yang mendalam.
Hal ini merupakan tantangan. Apakah saya suam-suam kuku? Bersemangat saat menerimanya, namun hanya sekedar niat, ataukah menjadi kesediaan, suatu intensi yang terpelihara.
Motivator sering memberikan kutipan:
- I can: saya dapat melakukan firman itu. Menerima hanya di pikiran saja, namun belum melakukannya.
- I will: saya akan melakukan firman itu. Ada niat melakukan, masih berupa niat saja, tetapi belum melakukan.
- I do: saya bersedia melakukan firman itu. Saya berkomitmen melakukannya.
Tiga keadaan yang sangat berbeda. Kita harus berani menyatakan “Saya bersedia” melakukannya. Memenangkan pergumulan menjadi sesuai kehendak-Nya.
Mari sahabat Yesus, mulai bersedia melakukan dan memelihara firman-Nya.
Tuhan, mampukan daku memelihara dan merenungkan firman-Mu selalu. Roh Kudus bimbinglah daku untuk menjadi pelaku firman. Terima kasih. Amin. (Idj)