SEP Surabaya, Sentra Evangelisasi Pribadi

Renungan hari Selasa, 11 Agustus 2026, Perayaan Wajib St. Klara

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 18:3)

Bacaan: Yeh 2:8-3:4Mzm 119:14.24.72.103.111.131Mat 18:1-5.10.12-14

Yesus digambarkan sering menggunakan anak kecil sebagai pembanding bagi orang-orang dewasa. Yesus menggunakan seorang anak kecil sebagai teladan kerendahan hati karena pada zaman itu, anak kecil bukanlah pribadi yang memiliki kedudukan atau kehormatan di masyarakat. Karena itulah Yesus mengajak murid-murid-Nya agar meninggalkan ambisi untuk menjadi yang terbesar dan belajar untuk fokus pada kerendahan hati.

Tidak dapat dipungkiri, memang karakter egois dan mengejar status memang sering terjadi pada kehidupan manusia dewasa dari zaman dahulu hingga sekarang. Biasanya semakin dewasa manusia, semakin banyak yang mengejar kedudukan, karena semakin dewasa, dunia selalu berusaha membuat kita melihat keberhargaan diri kita dari “apa yang aku punya”, “apa kedudukanku”, “apa kuasaku”. Semakin kita “tidak memiliki apa-apa” di mata dunia, semakin kita tersingkir dan tidak akan ada orang yang menganggap kita cukup penting untuk didengarkan dan dihormati.

Saya pun termasuk orang yang sampai saat ini masih mengejar harta dan takhta duniawi. Saya masih memperjuangkan kuasa dan kekayaan, dengan alasan agar saya tidak direndahkan oleh dunia. Yesus hari ini mengingatkan, bukan hati yang haus akan kedudukan yang berharga bagi kerajaan Allah. Jika saya tidak memiliki kerendahan hati seorang anak, dan tidak memiliki ketulusan seorang anak yang tidak mementingkan kedudukan atau kuasa, maka jangankan memiliki kedudukan di surga, untuk masuk ke dalam surga saja saya tidak layak.

Bagi Tuhan, daripada berfokus pada harta, tahta, dan kekuasaan, lebih baik kita belajar untuk merendahkan hati dan menjadi seperti anak kecil agar kita menjadi yang terbesar dalam kerajaan surga. Memang di dunia yang penuh dengan penilaian dan penghakiman, serta akses pada sosial media yang semakin mudah, membuat manusia semakin tergoda untuk menjadi hedon sehingga membuat saya sering melihat keberhargaan saya dari kacamata dunia.

Namun, saya tahu Tuhan sangat mengasihi saya. Saya merasakan Tuhan juga ingin saya kembali kepada-Nya. Saat saya mulai tidak mengandalkan Tuhan, atau saat saya sedang tertutup oleh ego dan kecemasan-kecemasan hidup, saya sering merasakan cinta Tuhan melalui berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidup saya. Tuhan berkarya dan memakainya untuk membentuk kerendahan hati saya. Akhir-akhir ini saya juga sering mengalami kejadian yang membuat saya merasa saya ini bukan siapa-siapa tanpa campur tangan Tuhan. Sehingga saya terus belajar untuk percaya pada Tuhan dan bergantung penuh pada kedaulatan Tuhan. Saya benar-benar merasakan kasih Tuhan melalui firman hari ini  yang mengatakan bahwa Tuhan akan meninggalkan domba yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan untuk mencari domba yang tersesat.

Tuhan, saya mohon ampun bila sampai hari ini masih belum bisa melepaskan kacamata dunia. Sering kali saya masih mengejar harta dunia dengan alasan agar tidak dilecehkan orang lain. Saya juga sering tidak mengandalkan Engkau dan berpegang pada pengertian dan kekuatanku sendiri. Terima kasih untuk firman hari ini Tuhan. Engkau sungguh mengasihiku dan aku tahu peristiwa-peristiwa dalam hidupku Engkau izinkan terjadi karena Engkau sangat mengasihiku dan ingin aku beroleh rahmat untuk menjadi pribadi yang rendah hati dan mengandalkan Engkau sehingga aku boleh semakin siap menyambut kerajaan surga yang telah Engkau anugerahkan. Amin. (PH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×