SEP Surabaya, Sentra Evangelisasi Pribadi

Renungan Senin, 19 Oktober 2026

Bacaan: Ef. 2:1-10; Mzm. 100:2.3.4.5; Luk. 12: 13-21.

“Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Lukas 12:21)

1. Cermin Diri Seorang Pengajar Iman

Sebagai pengajar di Sekolah Evangelisasi Pribadi (SEP), mungkin setiap minggu kita berdiri di depan kelas untuk mewartakan Kristus yang hidup. Namun, bacaan hari ini mengajak saya untuk sejenak menanggalkan “jubah” pengajar dan berdiri sebagai seorang murid di hadapan Allah.

Rasul Paulus dalam Efesus 2:1-3 mengingatkan saya akan asal-usul saya. Dahulu, saya adalah orang mati yang hidup dalam pelanggaran dan dosa sehari-hari: kemarahan, mudah sakit hati, kecemburuan, kurang sabar, dan suka menghakimi. Selain memiliki karakter buruk tersebut, saya pun memiliki kepribadian yang dipenuhi ego tinggi, ingin dihargai, serta memiliki motivasi untuk mencari pengakuan, pujian, dan penilaian yang baik, sama seperti orang-orang lain.

Saya menyadari bahwa hanya karena kemurahan Tuhan, saya bisa menjadi pengajar. Bukan karena saya lebih suci, lebih berpengalaman dalam mengajar, atau lebih pintar secara rohani daripada sesama pengajar maupun murid-murid. Sebaliknya, saya adalah seorang pendosa yang telah mengalami intervensi kasih Allah.

2. Pembaruan Spiritualitas Seorang Pengajar

• Mengajar Berdasarkan Rahmat, Bukan Performa (Efesus 2:4-9; Lukas 12:20-21)

Sebagai pengajar, godaan terbesar yang saya hadapi saat mempersiapkan materi dan mengajar adalah terjebak pada performa pelayanan, yaitu bagaimana membuat materi yang memukau atau menggunakan retorika yang hebat, seperti ketika saya bekerja di dunia usaha dalam bidang presentasi dan pendidikan sehari-hari. Namun, Sabda Tuhan menegur, membuka mata, serta membentuk pikiran dan hati saya.

Efesus 2:8-9 menegaskan: “Sebab karena anugerah kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, supaya tidak ada orang yang memegahkan diri.”

Lukas 12:20-21 memperingatkan tentang kebodohan menumpuk harta materi atau memupuk ego demi diri sendiri tanpa menjadi kaya di hadapan Allah.

Sabda Allah bagaikan pedang bermata dua yang mampu mengubah prinsip pribadi, jiwa, cara berpikir, serta motivasi dalam hati saya. Saya tetap ingin melakukan yang terbaik, tetapi kini semuanya saya lakukan semata-mata bagi Tuhan, bagi kemuliaan-Nya, dan bagi perluasan Kerajaan Allah agar semakin banyak jiwa dimenangkan.

• Melayani dengan Sukacita sebagai Domba Gembalaan (Mazmur 100:2-3)

“Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan milik Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.”

Ayat ini semakin membuka wawasan saya. Sebelum menjadi gembala atau pengajar bagi murid-murid SEP, saya adalah domba di pelataran Tuhan. Saat ini, Tuhan memercayakan saya untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Saya percaya bahwa Dia mendampingi saya, selalu memberi petunjuk, serta mempersiapkan diri, materi, dan pemahaman saya. Roh Kudus-Nya menyertai saya, dan Dialah yang berbicara melalui pengajaran-pengajaran yang harus saya sampaikan. Dia, Yesus, yang menyampaikan; biarlah saya hanya menjadi alat-Nya.

Ketika saya sebagai seorang guru mengalami kesibukan pribadi yang sangat padat, kelelahan, kehilangan sukacita (burnout), serta merasa bahwa persiapan saya tidak cukup, saya hanya dapat berserah sepenuhnya sepanjang perjalanan menuju tempat mengajar. Ternyata, semuanya dapat mengalir dengan baik. Saya sungguh bersyukur.

Pengalaman baru ini terus menambah kebersamaan dan keintiman relasi saya dengan Tuhan: Bapa, Yesus, dan Roh Kudus. Yesus bukan hanya menuntun dan mengajar melalui firman-Nya, tetapi juga melalui pengalaman nyata bersama-Nya. Inilah hal yang paling menyenangkan bagi saya. Semuanya dapat mengalir dari ketaatan dan ketulusan untuk memperoleh sukacita-Nya, semata-mata karena status saya sebagai milik kesayangan-Nya.

• Peringatan terhadap “Ketamakan” Rohani dan Duniawi (Lukas 12:13-15)

Yesus menegur orang yang meributkan warisan dengan mengingatkan agar waspada terhadap ketamakan. Bagi seorang pengajar iman, “ketamakan” tidak selalu berbentuk uang, tetapi bisa berupa kehausan akan pengakuan, pujian, atau status sosial sebagai pengajar yang hebat. Yesus mengingatkan bahwa hidup dan otoritas pelayanan kita tidak bergantung pada seberapa banyak pujian yang kita kumpulkan atau seberapa tinggi posisi kita dalam komunitas.

Ketika saya tersungkur di hadirat Tuhan dan menyadari betapa kayanya rahmat-Nya yang telah mengampuni saya, ada kelegaan yang luar biasa. Saya terus diingatkan bahwa tugas saya hanyalah mengantar orang kepada Yesus, bukan mencari panggung bagi diri sendiri.

Mengajar dengan hati yang penuh syukur, sebagaimana diingatkan dalam Mazmur 100, membuat pelayanan terasa ringan, penuh sukacita, dan berkuasa memotong segala bentuk ketamakan serta ego saya.

Doa Penutup

Ya Yesus, Guru Agung kami, terima kasih karena telah memercayakan tugas mewartakan sabda-Mu kepada saya yang sangat rapuh ini. Ampunilah saya jika sering kali saya mengajar dengan hati yang tamak akan pujian dan cemas akan perkara duniawi.

Segarkanlah kembali roh saya dengan kekayaan kasih karunia-Mu. Jadikanlah komunitas guru-guru SEP ini sebagai saluran berkat-Mu, yang mengajar dari kelimpahan hidup yang telah Engkau selamatkan. Amin. (WyMT)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×