Renungan Kamis, 22 Oktober 2026.
Bacaan: Ef. 3:14-21; Mzm. 33:1-2.4-5.11-12.18-19; Luk. 12:49-53.
“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!” (Luk. 12:49)
“Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.” (Luk. 12:51)
Hari ini, Yesus mengajarkan kepada saya bahwa ketika membaca firman-Nya, saya harus terlebih dahulu berdoa dan memohon agar Roh Kudus membimbing saya. Dengan demikian, firman Tuhan yang saya baca tidak diartikan secara harfiah, melainkan dipahami dengan penuh iman dan kepercayaan kepada Tuhan. Saya juga memohon terang Roh Kudus agar menerangi mata hati saya sehingga saya memahami dan mengerti ajaran Yesus kepada para murid-Nya, termasuk kepada saya.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengatakan bahwa Ia datang untuk melemparkan api ke bumi.
Kita tahu bahwa dalam Kitab Suci, api merupakan lambang Roh Kudus yang diutus oleh Allah. Maka, api yang dimaksud oleh Yesus bukanlah api yang akan membinasakan, melainkan terang dan kebenaran yang akan memberi kehidupan kepada saya sebagai anak-Nya.
Selain mengatakan bahwa Ia datang untuk melemparkan api, Yesus juga mengatakan bahwa Ia datang untuk membawa pertentangan. Sebagai anak Tuhan, saya harus bijak memahami dan mengerti perkataan Yesus ini, bukan mengartikannya secara harfiah begitu saja.Pertentangan yang dimaksudkan Tuhan adalah bahwa Ia ingin mengingatkan dan mengajarkan kepada saya bahwa selama menjalani kehidupan sehari-hari, akan ada banyak konflik dan pertentangan. Kehidupan tidak selalu berjalan baik-baik saja. Bahkan, dalam pertentangan, saya akan menghadapi perbedaan nilai kehidupan antara apa yang diajarkan oleh dunia dan apa yang diajarkan oleh Yesus.
Yesus mengajarkan kepada saya bahwa pertentangan juga dapat dipahami sebagai nasihat Tuhan bahwa dalam mengikuti Yesus pasti ada konsekuensinya. Ada pro dan kontra ketika saya menjadi anak-Nya. Namun, Tuhan Yesus sudah memperingatkan saya agar selalu teguh dalam iman dan berpegang pada ajaran-Nya.
Dalam kehidupan sehari-hari, saya berhadapan dengan banyak orang, termasuk keluarga sebagai orang-orang terdekat saya. Mereka pun tidak otomatis selalu mempunyai pandangan yang sama dengan saya. Ada hal-hal yang tidak sejalan dengan pemikiran saya, dan saya harus siap menghadapinya.
Dengan memahami firman Tuhan yang saya baca hari ini, Tuhan mengajak saya untuk lebih mengenal dan mencintai-Nya, yang datang ke dunia untuk menyelamatkan saya serta membebaskan saya dari dosa.
Dengan demikian, saya dapat menjadi pembawa damai dan penyalur berkat Allah kepada orang-orang di sekitar saya.
Refleksi Diri:
- Sudahkah saya menjadi pembawa damai dalam keluarga saya?
- Bagaimana hubungan saya dengan orang-orang terdekat, baik dalam keluarga maupun pertemanan? Apakah saya dapat menjadi pembawa damai dan menjadi saluran berkat Tuhan bagi orang-orang di sekitar saya?
Doa:
Ya Tuhan, ajarilah saya untuk menjadi pembawa damai dan saluran berkat bagi banyak orang. Amin.
Tuhan menjadikan kita pembawa damai dan penyalur berkat-Nya. Amin. (RE)