Renungan Minggu, 1 November 2026
Why. 7:2-4.9-14; Mzm. 24:1-2.3-4ab.5-6; 1Yoh. 3:1-3; Mat. 5:1-12a.
Kudus dari kata Ibrani qados, artinya “yang dipisahkan, dikhususkan bagi Allah”. Allah itu kudus dalam arti terpisah dari dunia, tak terbandingkan dengan yang lain. Israel adalah bangsa yang kudus, yang dipilih, dipisahkan dari bangsa lain, dan dikhususkan menjadi milik-Nya. Orang kudus adalah orang dipisahkan dan dikhususkan bagi Allah, sehingga mereka tidak lagi “dari dunia ini” (Yoh. 17:14-19). Dalam surat-surat Rasul Paulus “orang-orang kudus” berarti orang-orang Kristen.
Ini adalah definisi kata kudus di kamus Kitab Suci. Kalimat terakhir menarik untuk dibahas. Orang-orang kudus berarti orang-orang Kristen. Jadi kita semua adalah orang kudus. Tepatnya dipanggil menjadi kudus, seperti Allah adalah kudus. Tentunya saat Tuhan memanggil, Ia menunjukkan jalan atau caranya. Antara lain dengan hidup miskin di hadapan Allah-bergantung pada Allah dalam segala hal, peka akan dosa dan penderitaan orang lain, merespon dengan kasih saat dalam keadaan yang kurang menguntungkan, lapar dan haus akan kebenaran- melakukan dan mendorong orang lain hidup dalam kebenaran, murah dan suci hatinya- berusaha mengampuni dan hidup suci, membawa damai dimanapun berada, meski dianiaya oleh sebab kebenaran dan dicela namun tidak meninggalkan panggilan Allah.
Jalan ini kita tempuh saat hidup dalam keluarga dan masyarakat. Mengalah dan sabar terhadap anggota keluarga yang masih keras hati. Dalam menghadapi pergumulan hidup berusaha menyerahkan masalah dan tantangan pada Allah. Memilih yang benar dan menyenangkan Tuhan meski sekitar kita melakukan sebaliknya. Misalnya saat yang lain sudah tidak mau berdoa karena merasa tidak mendapat jawaban Tuhan, kita tetap tekun dalam doa. Tidak cepat percaya dan meneruskan berita yang viral tanpa tahu masalahnya. Inilah beberapa cara yang berbeda dengan cara duniawi yang dapat kita lakukan dalam usaha menjadi kudus.
Gereja hari ini memperingati hari raya orang kudus. Mari, bersama para kudus yang sudah lebih dahulu menjalani lalu meneladankannya, kita melakukannya baik dalam hal kecil maupun besar, setiap hari dengan setia dan bersama saudara seiman.
Bapa yang penuh kasih, curahkan Rahmat-Mu agar kami mampu menempuh jalan yang tidak mudah ini dengan pertolongan Roh Kudus dan kelak dapat berbahagia bersatu dengan-Mu di Surga. Amin. ( FW )