Renungan hari Rabu, 20 Mei 2026, Pekan VII Paskah.
Bacaan: Kis 20:28-38; Mzm 68:29-30.33-35a.35b-36c; Yoh 17:11b-19.
“Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia;” (Yohanes 17:18)
Saudara-Saudari yang terkasih,
Yesus berdoa, “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.” Mengapa persatuan menjadi hal pertama yang Yesus minta? Karena persatuan adalah tanda bahwa ALLAH itu nyata. Ibarat sebuah keluarga, jika orangtua dan anak selalu rukun, damai, harmonis, maka orang yang melihat akan berkata, “Keluarga itu lho keluarga bahagia.” Demikian juga Gereja, jika umatnya tidak guyub rukun, saling mengasihi, maka runtuhlah kesaksian imannya.
Yesus mengatakan bahwa persatuan kita harus seperti Bapa dan Anak. Persatuan yang terjadi bukan karena sehobi, bukan karena seorganisasi, namun persatuan itu ada karena sama-sama di dalam Allah.
Kita akui bahwa menjadi murid Yesus itu tidak enak. Mengapa? Karena hidup menurut Injil itu sangat bertentangan dengan arus dunia. Bagi dunia sukses itu kaya, punya jabatan, terkenal. Namun apa kata Yesus tentang sukses? “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah.” Bagi dunia hukum mata ganti mata, gigi ganti gigi itu wajar, namun apa ajaran Yesus? “Ampunilah”
Jika kita dihadapkan pada pilihan, bekerja dengan jujur tapi hasil sedikit, atau bekerja tidak jujur namun hasil melimpah. Tentu ini akan menjadi dilema dalam hati kita, apalagi kalau kita sedang sangat membutuhkan hal dunia. Hari ini dalam Injil Yohanes terulis: “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.”
Doa Yesus untuk kita kepada Bapa-Nya adalah agar hidup kita kudus. Kata “kuduskan” artinya dipisahkan untuk tujuan khusus. Benda-benda di altar sebagai sarana misa adalah benda kudus, bukan berarti benda-benda itu berbeda. Akan tetapi kudus karena dipakai sebagai sarana untuk misa. Seperti apa yang dimohonkan Yesus kepada Bapa supaya kita dikuduskan, bukan berarti kita jadi suci dan tidak boleh salah, atau supaya menjadi lebih suci daripada orang lain, melainkan supaya hidup kita dipakai Tuhan untuk misi-Nya.
Tujuan akhirnya bukan supaya kita nyaman namun lebih kepada supaya hidup kita di pakai Tuhan untuk misi-Nya. “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia;”
Berkat Tuhan menyertai kita.
Doa: Bapa yang bersemayam di surga, kami bersyukur telah Kauangkat menjadi murid-Mu. Walaupun tantangan ada di depan kami, kami percaya firman-Mu adalah senjata kami untuk mengalahkan dunia. Rahmati kami selalu untuk tetap teguh berpegang pada firman-Mu, agar hidup menjadi sarana kami untuk melaksanakan rencana-Mu. Demi Kristus pengantara kami. Amin. (AJS)