Renungan hari Sabtu, 23 Mei 2026, Pekan VII Paskah.
Bacaan: Kis 28:16-20.30-31; Mzm 11:4.5.7; Yoh 21:20-25.
Jawab Yesus: “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.” (Yoh 21:22)
Dalam hidup sehari-hari, kita sering membandingkan diri dengan orang lain. Mengapa hidupnya lebih mudah? Mengapa pelayanannya lebih dihargai? Mengapa Tuhan seolah memberi jalan berbeda bagi orang lain? Pertanyaan seperti ini juga muncul dalam hati Petrus ketika ia melihat murid yang dikasihi Yesus. Namun Yesus menjawab dengan tegas: “…itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.”
Sabda ini mengajak kita untuk berhenti terlalu sibuk melihat jalan hidup orang lain dan mulai fokus pada panggilan pribadi yang Tuhan berikan kepada kita. Setiap orang memiliki salib, tugas, dan rahmat yang berbeda. Tuhan tidak pernah menuntut kita menjadi seperti orang lain; Ia hanya meminta kesetiaan untuk mengikuti-Nya dengan sepenuh hati.
Sering kali rasa iri dan perbandingan membuat hati kehilangan damai. Kita merasa kurang berhasil, kurang kudus, atau kurang berharga dibandingkan sesama. Padahal di mata Tuhan, nilai hidup bukan ditentukan oleh siapa yang paling menonjol, tetapi siapa yang paling setia. Kesetiaan kecil dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan doa sehari-hari sangat berharga di hadapan Allah.
Yesus tidak menjelaskan seluruh rencana-Nya kepada Petrus. Ia hanya berkata, “Ikutlah Aku.” Artinya, iman bukan soal mengetahui semua jawaban, melainkan percaya dan tetap berjalan bersama Kristus. Ada saat ketika kita tidak mengerti mengapa hidup berjalan berat, tetapi Tuhan meminta kita tetap setia melangkah.
Renungan ini juga mengingatkan bahwa panggilan mengikuti Kristus bersifat pribadi. Ada orang yang dipanggil melayani secara besar, ada yang dipanggil menjadi saksi kasih melalui kesederhanaan hidup. Semua memiliki tempat dalam rencana keselamatan Allah.
Hari ini Tuhan mengundang kita untuk berhenti membandingkan diri dan mulai memperdalam relasi pribadi dengan-Nya. Fokuslah pada kasih, pertobatan, dan kesetiaan kita sendiri. Karena pada akhirnya, yang terpenting bukan bagaimana hidup orang lain berjalan, tetapi apakah kita sungguh mengikuti Kristus setiap hari.
Doa:
Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk tidak sibuk membandingkan hidupku dengan orang lain. Berilah aku hati yang setia dan percaya pada jalan yang Engkau sediakan bagiku. Mampukan aku untuk tetap mengikuti-Mu dalam suka maupun duka. Amin. (BDH)