SEP Surabaya, Sentra Evangelisasi Pribadi
Renungan Jumat 29 Mei 2026  
“Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” (Markus 11:17)

Jika diterapkan pada zaman ini, “menjadikan Gereja sebagai sarang penyamun” tidak lagi berarti secara literal dan sempit mencari keuntungan secara material, tetapi lebih luas ketika kita menjadikan Gereja untuk mencapai kepentingan pribadi, berkuasa, pencitraan, dan eksploitasi sehingga Gereja kehilangan tujuan utamanya untuk menemukan Allah, mengalami pertobatan, dan menjadi penginjil di tengah masyarakat.

Melalui sabda Yesus hari ini, mari kita melihat kembali praktik-praktik yang sering terjadi dan juga kita lakukan yang membawa Gereja tidak lagi menjadi tempat seperti yang dikehendaki Yesus.

Apakah saya mengejar jabatan gerejawi daripada keinginan untuk melayani? Apakah saya mendukung persaingan antarkomunitas sehingga tidak bersikap saling mendukung? Apakah pelayanan saya lebih berorientasi pada popularitas dan kenyamanan daripada usaha untuk mewartakan Injil? Apakah saya lebih fokus pada acara-acara dan kegiatan yang menghibur di Gereja daripada usaha untuk mencari Allah dan kehendak-Nya? Apakah kehidupan saya sehari-hari sudah sesuai dengan sabda Allah?

Apakah saya sering bersikap eksklusif dengan bersikap menghakimi, bekerja sama hanya dengan kelompok tertentu, tidak memberi ruang kepada sesama untuk mengalami pertobatan, merendahkan orang miskin, dan tidak mempedulikan orang-orang yang membutuhkan perhatian khusus? Apakah saya merindukan dan bergerak agar lebih banyak orang dapat mengalami kasih Allah dan diselamatkan?

Kita patut bersyukur bahwa saat ini Gereja Katolik di Indonesia menunjukkan perkembangan umat melalui struktur komunitas lingkungan, di mana model ini sejalan dengan gambaran Gereja perdana, yaitu umat berkumpul dalam kelompok kecil untuk berdoa, mendengarkan sabda, dan saling membantu.

Kisah Para Rasul menceritakan bagaimana umat Gereja perdana bertekun dalam pengajaran dan persekutuan. Mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa, dan dikatakan bahwa mereka sehati dan sejiwa. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

“Sarang penyamun” tidak hanya berarti tempat secara fisik, tetapi juga dalam hati manusia kita ketika Allah tidak lagi menjadi pusat hidup kita, bahkan ketika kita beribadah dan beraktivitas dalam Gereja.

Doa:

Tuhan Yesus, jadikanlah hatiku rumah doa, bukan sarana untuk memuaskan kepentingan diri. Murnikanlah motivasiku agar aku datang kepada-Mu dengan hati yang tulus, mencintai Tuhan dan sesama, bukan mencari kemuliaanku sendiri. Ajarlah aku agar dapat menjadi anggota Gereja yang hidup sehati dan sejiwa bersama saudara-saudari seiman untuk mewartakan Injil keselamatan sesuai kehendak Sang Kepala Gereja, yaitu Kristus sendiri. Amin. (RMWT)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×