Renungan Senin 15 Juni 2026
Bacaan: 1Raj 21:1-16; Mzm 5:2-3.5-6.7; Mat 5:38-42.
Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. (Matius 5:38)
Sering kita melihat anak kecil yang bermain dengan teman sebaya. Karena berebut mainan, terjadi pertengkaran yang berakibat perkelahian, saling memukul, saling membalas, dan saling melempar. Tentu hal ini sangat wajar terjadi di kalangan anak-anak. Yang satu mengatakan, “Saya dipukul dahulu, maka saya balas.” Pada kejadian yang lain, seorang anak mengatakan, “Barang saya dirusakkan dahulu, sehingga saya balas merusak barangnya.”
Ternyata kejadian seperti itu bisa terjadi juga pada manusia dewasa, pihak yang bertikai, pemimpin antarnegara, persaingan antarusaha, pasutri, rebutan warisan keluarga, dan sebagainya. Karena berbagai alasan atau kepentingan, mereka saling menyerang, melakukan ‘bullying’, saling menyakiti, terjadi perang, dan pembalasan ada di mana-mana.
Apakah anak kecil dan orang dewasa mempunyai sifat dan pengertian yang sama? Harusnya tidak. Apakah mereka yang bertikai tidak mempunyai pengetahuan akan Tuhan? Ternyata sebagian besar punya.
Hari ini kita melanjutkan renungan dari pengajaran Tuhan Yesus saat Khotbah di Bukit. Ayat yang kita dengarkan tentu tidak asing dan biasa terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari: mata ganti mata, gigi ganti gigi. Tidak ada yang salah selama peristiwa itu terjadi di dunia.
Namun, hari ini kita patut merenungkan apa yang diajarkan oleh Yesus, Tuhan dan Guru kita. Ajaran-Nya bukan dari dunia dan pastinya mengajarkan kasih yang menyempurnakan Hukum Taurat. Kalau kita percaya kepada-Nya, saatnya kita merenungkan ajaran Yesus, mengganti pembalasan dengan kasih dan kesabaran.
Memang tidak mudah, tetapi kebenaran ini bisa dilakukan kalau kita melibatkan Roh Kudus yang sudah diberikan-Nya kepada kita semua.
Doa: Terima kasih, Tuhan, atas berkat-Mu hari ini yang mengingatkan aku untuk mengubah kesalahan yang menempa aku untuk hidup lebih baik lagi. Amin. (TST)