Renungan Minggu, 28 Juni 2026
2 Raja 4:8-11.14-16a; Mzm 89: 2-3. 16-17.18-19. R: 2a; Mat 10: 37-42
Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. (Matius 10: 37)
Ajaran Tuhan Yesus kadang dipenuhi dengan paradoks kehidupan. Seperti sabda hari ini, bagaimana mungkin saya tidak mengasihi bapa, ibu dan anak-anak saya? Ibu telah mengandung melahirkan dan membesarkan dengan susah payah. Bapak dengan berpeluh mencari nafkah untuk keluarga. Anak adalah buah hati kami sebagai orang tuanya. Mengapa tidak boleh mengasihi mereka? Bagaimana mungkin tidak mengasihi mereka?
Namun kalau dicermati, Tuhan Yesus tidak mengatakan saya tidak boleh mencintai bapa ibu dan anak-anak. Yang dikatakan Tuhan adalah, mengasihi mereka lebih banyak dibandingkan mencintai Tuhan Yesus sendiri. Sebagai murid Yesus, dalam mengikuti Sang Guru, saya dituntut mencintai-Nya secara radikal dan memanggul salib. Ini memerlukan suatu usaha melepaskan dari segala kelekatan. Bila kita sampai pada sikap mencintai Tuhan dengan sepenuhnya, yang ada di sekitar kita, entah pribadi, barang, kedudukan dan lainnya, menjadi nomor sekian. Bilamana kita kehilangan semua itu, misalnya ditinggal karena meninggal dunia, kedudukan usai atau barang dicuri, kita masih dapat berserah, hati masih bisa damai. Dalam sikap hidup seperti inilah iman dan identitas kita sebagai murid Kristus memperolah makna.
Ya Tuhan Yesus, dalam menapaki jalan mengikuti-Mu, bantulah kami untuk berani tidak melekat pada apapun disekitar kami, terutama anak-anak, orang tua, kedudukan, apalagi barang-barang duniawi, sehingga kami mampu mengabdi-Mu sebagai ciptaan-Mu. Amin (LKME)