SEP Surabaya, Sentra Evangelisasi Pribadi

Renungan hari Senin, 29 Juni 2026, Hari Raya St. Petrus dan St. Paulus, Rasul.

Bacaan:  Kis. 12:1-11Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-92Tim. 4:6-8,17-18Mat. 16:13-19.

“tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa.“ (2Tim 4:17)

Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus mengajak kita merenungkan kembali bagaimana Yesus mendirikan Gereja-Nya di atas batu karang iman Petrus, sementara Paulus mengajarkan kita untuk tetap setia menjaga iman hingga garis akhir. Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) saat ini, muncul sebuah pertanyaan: dapatkah kita tetap setia pada iman Gereja Katolik dan pewartaan injilnya?

Paus Leo XIV dalam ensiklik terbarunya, “Magnifica Humanitas”, mengingatkan kita untuk menjaga martabat luhur manusia dari ancaman “perbudakan digital” akibat Artificial Intelligence (AI). Lewat AI, manusia sering kali terjebak dalam upaya memaksimalkan efisiensi yang justru bisa menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Akibatnya, jurang pemisah antara mereka yang sukses secara digital dan yang tertinggal menjadi semakin lebar.

Menghadapi tantangan ini, ada dua hal utama yang bisa kita renungkan:

Pertama, kita dipanggil untuk memiliki iman yang kokoh seperti Petrus.

Meneladani Petrus di era digital berarti berkomitmen pada kebenaran kasih. Kita diajak menggunakan teknologi bukan demi keuntungan diri sendiri, melainkan sebagai alat pemersatu yang merangkul sesama. Dengan demikian, tercipta keseimbangan di mana mereka yang sukses mau menolong yang tertinggal. Sebaliknya, mereka yang tertinggal dapat memberikan makna hidup yang lebih mendalam bagi mereka yang sukses, yang sering kali merasa hampa, kosong, dan kehilangan arah tujuan hidup di tengah kemudahan teknologi.

Kedua, kita perlu meniru kreativitas misioner Paulus.

Dahulu, Paulus menggunakan surat-suratnya untuk meneguhkan jemaat. Di era kecerdasan buatan ini, kita ditantang memanfaatkan teknologi canggih sebagai “mimbar baru” untuk menyebarkan kasih, keadilan, dan pengharapan, bukan sekadar mencari panggung demi validasi diri semata.

Refleksi Pribadi:

Tuhan memberkati.

(Ppt)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×