Renungan Jumat, 10 Juli 2026
Bacaan: Hos 14:2-10; Mzm 51:3-4.8-9.12-13.14.17; Mat 10:16-23.
“Bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dialah yang akan berkata-kata di dalam kamu.” (Matius 10:20)
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Bacaan hari ini mengajak kita melihat dua sisi kehidupan orang beriman. Di satu sisi, Allah selalu membuka pintu pertobatan bagi siapa pun yang mau kembali kepada-Nya. Di sisi lain, Yesus mengingatkan bahwa menjadi murid-Nya tidak selalu mudah. Akan ada tantangan, penolakan, bahkan penderitaan.
Dalam bacaan pertama, Nabi Hosea menyampaikan pesan Allah kepada bangsa Israel yang telah berulang kali meninggalkan-Nya. Mereka lebih mengandalkan kekuatan manusia dan menyembah berhala daripada percaya kepada Tuhan. Namun, Allah tidak menutup hati-Nya. Sebaliknya, Ia bersabda, “Kembalilah kepada Tuhan Allahmu.”
Ajakan ini bukan sekadar ditujukan kepada Israel ribuan tahun yang lalu, tetapi juga kepada kita hari ini. Betapa sering kita juga “membuat berhala” dalam hidup. Berhala itu mungkin bukan berupa patung, melainkan uang, jabatan, popularitas, kesenangan, bahkan ego dan rasa percaya diri yang berlebihan. Ketika semua itu menjadi pusat hidup, perlahan-lahan Tuhan tersingkir dari hati kita.
Namun, kasih Allah sungguh indah. Dia selalu menunggu kita pulang. Allah tidak berkata, “Kamu sudah terlalu berdosa.” Sebaliknya, Ia berkata, “Aku akan menyembuhkan ketidaksetiaan mereka dan mengasihi mereka dengan sukarela.” Kasih Allah selalu lebih besar daripada dosa manusia.
Injil hari ini membawa kita pada kenyataan yang lain. Yesus berkata kepada para murid, “Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala.”
Menjadi pengikut Kristus memang bukan jalan yang selalu nyaman. Pada zaman sekarang, mungkin kita tidak mengalami penganiayaan fisik, tetapi kita dapat mengalami ejekan karena mempertahankan kejujuran, tekanan karena menolak korupsi, atau dianggap aneh karena tetap hidup sesuai ajaran Injil.
Banyak orang takut bersaksi karena khawatir ditolak atau disalahkan. Namun, Yesus memberikan penghiburan yang luar biasa, “Jangan khawatir tentang apa yang harus kamu katakan, sebab Roh Kudus akan berbicara melalui kamu.”
Artinya, kita tidak pernah berjalan sendirian. Roh Kudus selalu menyertai orang yang setia kepada Kristus.
Renungan bagi kehidupan kita: sering kali kita merasa hidup ini berat. Ada persoalan keluarga, ekonomi, pekerjaan, kesehatan, atau pelayanan di Gereja. Kadang-kadang kita bertanya, “Mengapa Tuhan membiarkan semuanya terjadi?”
Sabda Allah hari ini menjawab bahwa Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup tanpa kesulitan. Namun, Tuhan menjanjikan penyertaan-Nya. Di tengah badai kehidupan, Roh Kudus memberi kekuatan, keberanian, dan kebijaksanaan agar kita tetap setia.
Karena itu, ketika menghadapi masalah:
- Jangan menjauh dari Tuhan, tetapi datanglah semakin dekat kepada-Nya.
- Jangan mengandalkan kekuatan sendiri, tetapi percayalah kepada penyertaan Roh Kudus.
- Jangan membalas kebencian dengan kebencian, tetapi hadapilah semuanya dengan kasih dan kebijaksanaan.
Seperti embun yang menyegarkan tanah yang kering, demikian pula kasih Tuhan akan memulihkan hati orang yang mau bertobat. Dan seperti Roh Kudus yang menguatkan para rasul, demikian pula Roh Kudus akan menguatkan kita untuk tetap menjadi saksi Kristus di mana pun kita berada.
Saudara-saudari terkasih,
Marilah kita menggunakan hari ini sebagai kesempatan untuk kembali kepada Tuhan dengan hati yang tulus. Jangan biarkan dosa, kekecewaan, atau rasa takut menjauhkan kita dari kasih-Nya. Percayalah bahwa Tuhan selalu menerima setiap anak-Nya yang datang dengan kerendahan hati, dan Roh Kudus akan memberi kekuatan kepada kita untuk tetap setia dalam setiap keadaan. (FXG)