Renungan, Minggu 12 Juli 2026
Bacaan: Yes. 55:10-11; Mzm. 65:10abcd,10e-11,12-13,14; Rm. 8:18-23; Mat. 13:1-23
Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. (Matius 13:8)
Sabda Tuhan tidak dapat hanya sekadar didengar, harus direnungkan dan dilakukan. Saat kita membaca, memahami, lalu merenungkan apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan, kemudian mengambil keputusan untuk melakukannya, Sabda Tuhan akan berdaya guna mengubah kehidupan seseorang.
Sabda Tuhan adalah dasar kekuatan iman yang harus senantiasa kita pelihara.
Melalui perumpamaan tentang penabur dan benih yang ditaburkan, Yesus mengajarkan bahwa agar benih jatuh di tanah yang subur dan nantinya menghasilkan tiga puluh, enam puluh, bahkan seratus kali lipat, tanah itu harus diolah terlebih dahulu. Tanah harus digemburkan, diberi pupuk, disiram, kemudian benih ditanam. Setelah benih ditanam pun, tanah tetap harus dipelihara agar benih dapat tumbuh dengan baik.
Tanah itu adalah hati kita. Sebelum Sabda Tuhan tertanam di dalam hati, hati kita perlu dipersiapkan. Hati yang keras perlu dilembutkan, hati yang penuh iri dan egoisme perlu belajar kemurahan hati.
Setelah hati kita menjadi sehat, Sabda Tuhan akan dengan sendirinya bertumbuh di dalam hati yang subur. Sabda itu akan menghasilkan buah yang berlipat ganda. Orang yang membaca, merenungkan, dan melakukan Sabda Tuhan tidak akan berdiam diri tanpa melakukan sesuatu. Ketika melihat ada sesama yang membutuhkan pertolongan, ia akan tergerak untuk membantu.
Yang terutama dari semuanya itu adalah bahwa Sabda Tuhan mampu mengubah hidup kita. Sabda menjadi jawaban ketika hidup kita dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang tidak kita mengerti. Sabda juga akan senantiasa menguatkan kita dalam menjalani kehidupan ini.
Pertanyaannya, sudahkah kita menghidupi Sabda Tuhan di dalam hati kita sehingga Sabda itu dapat bertumbuh dan menghasilkan buah yang berlipat ganda?
Hidup di zaman ini, jika tidak dituntun oleh Sabda Tuhan, kita akan mudah tersesat, putus asa, takut, kecewa, dan berbagai hal lainnya.
Oleh sebab itu, Tuhan berkata, “Berbahagialah kamu yang dikaruniai untuk melihat dan mendengar, sebab banyak nabi ingin melihat dan mendengar, tetapi mereka tidak melihat dan tidak mendengar.”
Sebab mereka melihat, tetapi tidak sungguh-sungguh melihat; mereka mendengar, tetapi tidak sungguh-sungguh mendengar.
Untuk dapat memahami dan melakukan Sabda Tuhan adalah sebuah anugerah. Namun, anugerah itu harus disambut dengan kerendahan hati agar dapat menghasilkan buah dalam kehidupan kita.
Doa
Allah Roh Kudus, jadikanlah hatiku bagaikan tanah yang subur, yang senantiasa siap ditumbuhi benih-benih iman. Semoga Sabda-Mu berakar, bertumbuh, dan menghasilkan buah yang berlimpah dalam hidupku. Amin. (VMHFS)