SEP Surabaya, Sentra Evangelisasi Pribadi

Renungan Senin, 13 Juli 2026

Yes 1:11-17; Mzm 50:8-9.16bc.17.21.23; Mat 10:34-11:1

“ Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai diatas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai melainkan pedang.” ( Matius 10:34 )

Memiliki keluarga yang harmonis dan damai menjadi idaman setiap orang yang berkeluarga. Tetapi, Yesus memberikan gambaran tentang perpecahan dalam keluarga. Keputusan dan tindakan untuk beriman kepada Yesus dan menghidupi iman secara sungguh-sungguh akan menimbulkan perlawanan—bahkan dari orang-orang terdekat. Tidak semua orang siap menerima nilai-nilai Kerajaan Allah seperti kejujuran, kasih tanpa syarat, dan pengorbanan diri. Misalnya, seorang bapak bekerja dengan baik, jujur, tidak mau korupsi. Ia bisa ditentang istrinya yang menuntut penghasilan lebih banyak untuk hidup lebih mewah. Mungkin juga, ia dikatakan ‘munafik’ oleh orang tua, mertua, dll. Mereka yang kita kasihi bisa tidak suka dan berusaha menarik kita meninggalkan Yesus. Inilah yang dimaksudkan Yesus, bahwa kehadiran-Nya membawa pedang, bukan damai, pemisahan antara mereka yang memilih jalan Allah dan mereka yang menolaknya. Tidak heran apabila orang-orang percaya kepada Kristus menjadi target kebencian dari mereka yang menolak Yesus, termasuk keluarga sendiri. Maka, kita perlu terus membarui penyerahan diri kepada Yesus. Damai-Nya akan tinggal tetap dalam hati kita dan aliran rahmat-Nya bekerja bagi keluarga kita.

Menjadi orang Katolik tidak pernah berarti nyaman-nyaman saja tanpa kesulitan. Justru sebaliknya, kesulitan selalu saja ada dan kita tanggung. Pengikut Kristus tidak akan pernah terbebas dari salib! Yesus berkata, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak layak bagi-Ku” Salib macam apa yang dimaksudkan oleh Yesus sehingga menjadi ukuran kelayakan seseorang bagi-Nya? Salib yang dimaksudkan tentu bukan semacam penderitaan yang dialami karena kesalahan sendiri melainkan karena salib yang harus dialami karena pilihannya secara bebas untuk mengikuti Yesus. Saya teringat bagaimana saya dibenci oleh mertua dan keluarga suami karena menolak diajak ke orang pintar/suhu di Jember Ketika dokter menyatakan ada myum di rahim saya. Saya siap memikul salib karena iman dan cinta saya akan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya. Dokter mengatakan kalau monopose myum akan hilang dengan sendirinya namun sampai sekarang myum itu masih ada walaupun sudah monopose. Syukur kepada Allah sudah 20 tahun ini myum  saya tidak mengganggu aktivitas saya dan saya percaya myum boleh tetap ada namun Tuhan Yesus sudah menyembuhkan saya dan hubungan saya dengan mertua dan keluarga suami juga sudah pulih seperti biasa.

Melalui peristiwa salib, Yesus kehilangan nyawa-Nya namun mendapatkannya kembali melalui kebangkitan. Tujuan orang Katolik mengikuti Kristus tidak untuk menderita, melainkan untuk bahagia, meski harus menempuh jalan gelap penderitaan. Itulah yang membuat kita kian serupa dengan Kristus. ( ARLF )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×