SEP Surabaya, Sentra Evangelisasi Pribadi

Renungan hari Selasa, 21 Juli 2026, Pekan Biasa XVI.

Bacaan: Mi 7:14-15.18-20Mzm 85:2-4.5-6.7-8Mat 12:46-50.

“Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” (Mat. 12:50)

Dalam bacaan hari ini, ada kata yang menarik yaitu: melakukan kehendak Bapa-Ku, dan Tuhan Yesus sendiri berjanji, bahwa jika kita melakukan kehendak Bapa maka kita akan menjadi saudara-saudari dan ibu Yesus. Menjadi keluarga Yesus. Sungguh janji yang sangat menyenangkan bagi kita yang percaya penuh kepada-Nya.

Namun kita perlu ingat, untuk menjadi keluarga Yesus, kita harus melakukan kehendak-Nya. Bagaimana cara melakukan kehendak-Nya? Apakah sudah kita lakukan?

Mari bersama sama kita merenungkan perjalanan hidup kita selama ini. Bagaimana sikap kita kepada sesama? Apakah kita sudah melaksanakan kehendak-Nya dengan utuh dan tulus? Kepada siapa saja kita mau peduli dan tidak mudah marah? Bagaimana sikap kita kepada orang yang menjengkelkan dan tidak sepaham dengan kita?

Saya jadi teringat ketika anak-anak masih di TK, sering kali mereka bertengkar atau berebut mainan. Beberapa orang tua ada yang ikut-ikut menyalahkan atau membela anaknya sendiri. Hal ini menyebabkan keributan antar orang tua. Sampai pernah suatu kali kepala sekolah dan wali kelas pun terlibat untuk melerai atau menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya sangat sederhana. Dan pada saat orang tua masih saling tidak enak hati (marah), terlihat anak-anak itu sudah bermain bersama lagi tanpa ada rasa saling menyalahkan. Kita sebagai orang tua harusnya menyadari, bahwa dalam bermain sering kali terjadi perbedaan pendapat atau berebut benda untuk bermain. Ini merupakan seni dalam berteman. Bila didasari atas rasa kasih maka tidak akan ada rasa saling menyalahkan atau marah. Kasih yang utuh dapat melihat cara pandang atau perbedaan dari sudut orang lain, dapat memahami pendapat orang lain.

Saat ini, dalam persekutuan di gereja maupun di komunitas sering terjadi perbedaan pendapat atau selisih paham. Bagaimana sikap kita selama ini? Dengan menyadari ketaatan kita untuk melakukan kehendak Bapa, maka kita belajar untuk mau rendah hati, sabar, dan penuh kasih, serta terbuka dalam menyelesaikan perbedaan pendapat. Terhadap sesama yang selama ini menjengkelkan, sudahkah kita belajar melihat dari sisi pandang orang tersebut dan memakluminya? Kepada sesama yang selama ini kita tidak peduli, apakah kita sudah mau menyapa atau bertegur sapa untuk berbagi sukacita akan Yesus? Semua itu adalah kehendak Bapa yang harus kita lakukan agar menjadi suatu kebiasaan untuk melakukan segala sesuatu sesuai kehendak-Nya. Hal yang sederhana namun sering kita lalaikan.

Ya Yesus, tolonglah mampukan kami agar dapat melakukan kehendak Bapa. Kami ingin menjadi bagian dari keluarga-Mu, menjadi saudara-saudari dan ibu-Mu, seperti janji-Mu. Sebab Engkaulah perantara kami yang hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa. Amin. (IJW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×