SEP Surabaya, Sentra Evangelisasi Pribadi

Renungan Rabu, 29 Juli 2026

Bacaan: 1Yoh. 4:7-16; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7, 8-9,10-11; Yoh. 11:19-27

“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.” (Yohanes 11:25)

Perikop ini mengisahkan perjumpaan Yesus dengan Marta setelah Lazarus meninggal dunia. Marta sedang berada dalam dukacita yang mendalam. Ia kehilangan saudara yang sangat dikasihinya. Banyak orang datang untuk menghiburnya, tetapi penghiburan terbesar justru datang ketika Yesus hadir.

Marta berkata kepada Yesus, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.”

Kesedihan yang mendalam dan iman yang masih hidup terpancar dari perkataan Marta. Ia kecewa karena Yesus datang terlambat, namun ia tetap percaya bahwa Yesus sanggup melakukan sesuatu.

“Saudaramu akan bangkit” (ay. 23).

“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.” (ay. 25).

Yesus tidak hanya memberikan kehidupan, tetapi Dialah sumber kehidupan itu sendiri. Di dalam Dia, kematian bukanlah akhir, melainkan pintu menuju kehidupan kekal.

Tuhan hadir di tengah dukacita kita. Sering kali kita merasa Tuhan terlambat menjawab doa. Kita bertanya, “Mengapa Tuhan tidak segera menolong?” Namun, kisah ini menunjukkan bahwa keterlambatan menurut manusia bukan berarti keterlambatan menurut Allah. Tuhan tetap bekerja, bahkan melalui situasi yang tampaknya sudah tidak ada harapan.

Jesus, I trust in You.

Doa

Tuhan Yesus, Engkaulah Kebangkitan dan Hidup. Di saat aku menghadapi kesedihan, kegagalan, atau kehilangan harapan, ajarlah aku untuk tetap percaya kepada-Mu. Bangkitkanlah iman yang mulai lemah, pulihkanlah hatiku yang terluka, dan tuntunlah aku agar selalu hidup dalam pengharapan akan kehidupan kekal bersama-Mu. Amin. (MIP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×