SEP Surabaya, Sentra Evangelisasi Pribadi

Renungan Jumat, 31 Juli 2026

Bacaan: Yer 26:1-9; Mzm 69:5.8-10.14; Mat 13:54-58;

“Karena ketidakpercayaan mereka itu, maka Yesus tidak mengerjakan banyak mukjizat di situ.” (Matius 13:58)

Saudara-saudariku yang dikasihi Tuhan,

Dari bacaan ini kita mengetahui bahwa orang-orang yang awalnya takjub mendengar pengajaran Yesus berubah menjadi kecewa dan menolak Yesus ketika mereka menyadari bahwa Yesus adalah orang yang sudah mereka kenal, sehingga Yesus tidak melakukan mukjizat. Mereka memandang rendah Yesus karena merasa sudah tahu siapa Yesus, namun sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh mengenal-Nya.

Bacaan ini mengajar kita untuk tidak memandang rendah orang lain dan terbuka bahwa orang lain bisa bertumbuh dan mempunyai kemampuan yang jauh lebih besar daripada yang kita ketahui. Dengan demikian, seharusnya kita bersukacita atas pertumbuhan dan keberhasilan orang lain.

Kita juga belajar bahwa karya Tuhan bisa terwujud jika ada kerja sama dari kita, yaitu jika kita mempunyai iman bahwa Yesus bukanlah hanya sosok manusia yang pernah lahir dan tumbuh di Nazaret, tetapi benar-benar Allah. Dan untuk mempunyai iman sebesar itu, kita tidak cukup hanya “tahu” Yesus, namun juga kita harus mengenal Yesus, Sang Allah Putra yang menjelma menjadi manusia. Pengenalan yang mendalam diperoleh melalui berbagai sumber yang saat ini relatif mudah diperoleh, misalnya Katekismus Gereja Katolik, media sosial dengan sumber Katolik terpercaya, dan buku-buku Katolik. Jadi, dengan lebih mengenal-Nya, maka mukjizat bisa terjadi dan kita semua bisa menjadi saluran Allah untuk orang banyak.

Mari kita melihat kehidupan St. Ignatius Loyola yang hari ini diperingati oleh umat Katolik di dunia. Ia dibaptis sejak usia kanak-kanak, namun kehidupannya jauh dari kehidupan religius. Bahkan, ia tumbuh menjadi remaja yang ambisius, penuh hasrat akan keduniawian dan kedagingan. Ia bercita-cita menjadi ksatria dan karena itu ia turut serta dalam pertempuran. Namun, karena terluka parah, ia harus beristirahat di sebuah kastel untuk pemulihan dari cederanya. Dalam kekecewaan dan kesedihannya karena cita-citanya tidak dapat terwujud, ia menemukan dan membaca buku rohani tentang kehidupan para kudus dan mulai tertarik dengan kehidupan religius. Ia menyadari bahwa kehormatan duniawi yang selalu diagungkannya pada akhirnya akan sirna dan tak berarti. Sebaliknya, kehormatan dari Tuhan akan membebaskan dan membahagiakan. Perjalanan iman Ignatius akhirnya menjadikannya seorang imam yang berkarya di berbagai tempat dan menjadi pendiri Serikat Jesuit yang saat ini tersebar di seluruh dunia. Kalau St. Ignatius Loyola bisa belajar dan berlatih untuk lebih mengenal Yesus, maka dengan bantuan Allah kita pun bisa menjadi lebih mengenal Yesus.

Doa:

Ya Allah Bapa, Engkau telah mengutus Putra-Mu yang tunggal, Tuhan kami, untuk tinggal bersama kami. Namun, sering kali kami meragukan kuasa-Nya. Kami masih sering memandang-Nya dengan sebelah mata sehingga kami gagal menjadi rekan sekerja Putra-Mu untuk menjadi saluran berkat bagi yang lain.

Karena itu, bantulah kami untuk terus mau belajar mengenal Putra-Mu sehingga kami dapat menjadi alat-Mu untuk memuliakan nama-Mu. Semua ini kami mohon kepada-Mu dalam persatuan dengan Roh Kudus dan demi Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.

Amin. [LSL]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×