SEP Surabaya, Sentra Evangelisasi Pribadi

Renungan Harian, Rabu 18 Agustus 2026

Bacaan: Yeh 34:1-11; Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6; Mat 20:1-16a

Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? (Matius 20:15)

Perumpamaan tentang pekerja-pekerja di kebun anggur bukanlah mengenai keadilan secara matematis atau upah berdasarkan waktu kerja, melainkan keadilan kasih karunia. Tuan pemilik kebun memberikan upah yang sama rata (satu dinar) kepada semua pekerja mulai dari awal dan akhir hari, yang menunjukkan bahwa keselamatan dan kebaikan Allah adalah anugerah murni, bukan hak karena jasa manusia.

Dari perikop ini kita belajar bahwa upah satu dinar yang diberikan bukanlah berdasarkan lama atau beratnya pekerjaan seseorang, akan tetapi karena semua pekerja sama-sama membutuhkan nafkah. Maka, berdasarkan kedaulatan kasih karunia Tuhan, Tuan pemilik kebun yang murah hati itu peduli pada setiap orang, termasuk yang terlambat dipanggil, benar-benar melampaui logika manusia. Menggambarkan cara pandang Allah yang berbeda dari standar manusia yang sering menuntut balas jasa setimpal. Namun, sebagai manusia, bagi pekerja yang bekerja seharian, merasa iri saat melihat pekerja lain mendapat upah yang sama, padahal waktu kerjanya lebih pendek.

Sering kali pandangan saya terhadap Tuhan seperti para pekerja tersebut, berbuat kebaikan, beramal, atau memberi sumbangan agar Tuhan selalu memberikan kebaikan-kebaikan-Nya kepada saya. Sehingga mudah iri hati kalau melihat orang lain menerima kemurahan Allah.

Melalui perumpamaan ini Yesus mempertegas perbedaan pandangan Tuhan dengan pandangan manusia. Mereka yang bersungut-sungut itu justru tidak melihat sisi yang lebih dasar dari kasih karunia, yaitu peluang yang sama untuk mendapatkan nafkah.

Pekerja yang protes itu terhitung beruntung, karena mendapat pekerjaan sejak pagi dan upah yang jelas dan wajar, sementara banyak orang harus menganggur sampai siang bahkan sore, karena tidak ada yang memberi pekerjaan. Mereka cemas dari mana mendapat nafkah. Keadilan seperti ini tak muncul di hati orang yang bersungut-sungut tadi.

Tuan itu memberi upah satu hari bagi yang bekerja hanya satu jam, karena ia tahu bahwa upah kurang dari sedinar tidak cukup untuk menghidupi satu keluarga. Orang yang bekerja sejam itu diberi upah karena sungguh-sungguh bekerja. Sedinar tidak dihadiahkan begitu saja.

Memang manusia kerap bingung menghadapi belas kasih dan keadilan Allah. Allah tidak menunggu kembalinya pendosa, tetapi mencarinya. Tidak ada kesalahan yang bisa memutuskan kita dari kasih-Nya.

Maka, hendaklah kita hidup dengan rasa syukur atas apa yang telah Tuhan berikan bagi hidup kita tanpa membandingkannya dengan orang lain. Bersukacitalah atas berkat yang diterima oleh sesama. Rayakan keselamatan dan kebaikan yang Tuhan limpahkan kepada orang lain, termasuk mereka yang “baru bertobat” atau berdosa.

Menyadari bahwa keselamatan kita semata-mata karena kemurahan Allah, bukan karena hebatnya usaha kita. (SWW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×