SEP Surabaya, Sentra Evangelisasi Pribadi

Renungan Senin, 7 September 2026

Bacaan: 1Kor 5:1-8; Mzm 5:5-6.7.12; Luk 6:6-11.

“Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Lukas 6:9)

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Hari ini Yesus mengajak kita melihat sesuatu yang sangat sederhana, tetapi sangat dalam: apa yang lebih penting dalam hidup kita? Mempertahankan aturan dan kepentingan diri sendiri atau menghadirkan kebaikan dan kasih kepada sesama?

Dalam Injil Lukas 6:6–11, Yesus berada di rumah ibadat. Di sana ada seorang yang mati tangan kanannya. Orang itu sebenarnya sedang membutuhkan pertolongan. Ia mengalami keterbatasan dan tentu mengalami kesulitan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, yang menarik, orang-orang Farisi tidak melihat penderitaan orang itu sebagai sesuatu yang harus ditolong. Mereka justru mengamati Yesus dan mencari-cari kesalahan-Nya. Mereka ingin mengetahui apakah Yesus akan menyembuhkan orang itu pada hari Sabat.

Yesus mengetahui pikiran mereka. Kemudian Yesus berkata:

“Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat: berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan orang atau membinasakannya?”

Lalu Yesus berkata kepada orang yang mati tangannya: “Ulurkanlah tanganmu!”

Orang itu mengulurkan tangannya dan tangannya menjadi sembuh.

Saudara-saudari, perhatikan apa yang terjadi. Ada seorang yang sedang menderita. Ada Yesus yang melihat penderitaannya. Dan ada orang-orang yang justru sibuk mencari kesalahan. Di sinilah kita diajak bercermin.

1. Kadang-kadang Kita Lebih Mudah Melihat Kesalahan daripada Penderitaan

Dalam kehidupan sehari-hari, bukankah hal seperti ini juga sering terjadi? Ketika seseorang melakukan kesalahan, kita cepat sekali menghakimi. “Memang dia begitu orangnya.” “Sudah dari dulu tidak bisa dipercaya.” “Ya, itu akibat perbuatannya sendiri.”

Tetapi terkadang kita lupa bertanya: Mengapa dia sampai melakukan hal itu? Apa yang sedang dia alami? Mungkinkah sebenarnya dia sedang membutuhkan pertolongan?

Kita bisa begitu cepat melihat kesalahan seseorang, tetapi lambat melihat luka yang ada di balik kesalahannya. Yesus mengajarkan sesuatu yang berbeda. Yesus tidak mengabaikan kebenaran. Tetapi Yesus juga tidak kehilangan belas kasih. Bagi Yesus, manusia lebih penting daripada gengsi, kepentingan pribadi, maupun sikap merasa diri paling benar.

2. Jangan Sampai Hati Kita Menjadi “Mati”

Dalam hal ini, yang mati bukan hanya tangan orang tersebut. Secara rohani, kita juga bisa bertanya: Jangan-jangan tangan kita masih hidup, tetapi hati kita mulai mati?

Tangan kita masih bisa bekerja, tetapi tidak mau menolong. Mulut kita masih bisa berbicara, tetapi lebih sering digunakan untuk mengkritik. Mata kita masih bisa melihat, tetapi hanya melihat kekurangan orang lain. Telinga kita masih bisa mendengar, tetapi tidak mau mendengarkan jeritan orang yang sedang mengalami kesulitan. Hati kita masih berdetak, tetapi sudah kehilangan belas kasih.

Inilah yang harus kita waspadai. Bisa jadi kita rajin berdoa, rajin mengikuti kegiatan Gereja, rajin beribadah, tetapi ketika berhadapan dengan orang yang membutuhkan pertolongan, kita tidak peduli.

Yesus hari ini mengingatkan: Iman tidak cukup hanya tampak dalam ibadah. Iman harus terlihat dalam kasih dan kebaikan yang kita lakukan.

3. Bacaan Pertama: Membuang “Ragi yang Lama”

Dalam bacaan pertama, Santo Paulus menggunakan gambaran tentang ragi. Sedikit ragi dapat meresapi seluruh adonan. Paulus mengajak umat untuk membuang “ragi yang lama”, yaitu keburukan dan kejahatan, dan hidup sebagai manusia baru dalam kemurnian dan kebenaran.

Ini sangat relevan bagi kehidupan kita. Kadang-kadang ada “ragi lama” dalam hati kita: rasa iri, dendam, kebencian, kesombongan, suka menghakimi, sulit mengampuni, merasa diri paling benar, dan tidak mau peduli terhadap penderitaan orang lain.

Kalau dibiarkan, hal-hal kecil tersebut dapat berkembang dan memengaruhi seluruh kehidupan kita. Karena itu, Tuhan mengajak kita untuk membuang “ragi lama” tersebut. Kita dipanggil menjadi manusia baru. Bukan berarti kita tidak pernah salah. Tetapi ketika kita menyadari kesalahan, kita mau berubah.

Doa

Tuhan Yesus, kami mohon, lembutkanlah hati kami. Bukalah mata kami untuk melihat orang yang membutuhkan. Bukalah telinga kami untuk mendengar mereka yang sedang berjuang. Dan jadikanlah kami perpanjangan tangan kasih-Mu. Semoga melalui hidup kami semakin banyak orang mengalami bahwa Tuhan sungguh hadir dan mengasihi mereka. Amin. (FXG)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×