SEP Surabaya, Sentra Evangelisasi Pribadi
Renungan Sabtu, 19 September 2026 
1 Kor 15; 35-37. 42-49,  Mzm 56:10-14; Luk8 : 4-15
 “ Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan (Lukas 8: 15) 
Dalam keluarga, anak-anak makan dari makanan yang sama, mendapat nasihat yang sama, namun hasilnya bisa berbeda. Murid dalam satu kelas, diajar pada jam yang sama, materi dan cara yang sama, namun pemahaman dan hasilnya bisa berbeda. Mengapa? Karena masyarakat kita tidak memiliki budaya mendengarkan. Semua orang ingin berbicara dan didengarkan, tetapi tidak mau mendengarkan orang lain.
Hari ini Yesus menjelaskan pentingnya mendengarkan sabda Tuhan dan dimengerti, menarik bahwa dikatakan benih yang ditabur adalah Sabda Allah. Namun, pada ayat 12 dan selanjutnya dikatakan bahwa benih yang jatuh adalah gambaran atau sikap orang yang mendengarkan sabda Tuhan. Sampai di sini tampaknya ada perbedaan pemahaman tentang arti benih yang ditabur. Kita tidak  membahas pertentangan arti yang ada.Kita justru ingin melihat keterkaitan di antara keduanya. Sabda Tuhan tinggal di dalam diri kita. Sabda itu diletakkan sendiri oleh Tuhan dalam hati kita. Sabda dalam hati inilah yang membuat kita senantiasa merindukan Tuhan. Sayangnya kita terkadang tidak menyadari kehadiran sabda Tuhan dalam diri kita. Kita membiarkan diri dan hidup kita dihimpit oleh banyak hal, seperti kekhawatiran dan dosa. Akibatnya, sabda Tuhan yang ada dalam diri kita tidak bertumbuh dan berkembang atau bahkan mati. Mendengarkan ternyata bukanlah hal yang mudah, meski banyak orang menganggapnya sepele. Sebenarnya jika kita mau merenungkan, sejak kecil kita sudah diajari atau dilatih untuk mendengarkan. Bahkan, ada penelitian bahwa janin yang biasanya diajak mendengarkan musik klasik, otaknya bisa berkembang dengan baik.  Dengan mendengarkan sabda Tuhan, tentu iman dan rohani kita bisa bertumbuh dan berkembang. Itu lah sebabnya Gereja menganjurkan supaya kita rajin membaca Kitab Suci. Bahkan ada bulan yang di khususkan sebagai bulan Kitab Suci Nasional, yaitu bulan September. Demikian pula dengan Perayaan Ekaristi yang kita ikuti setiap hari dan setiap Minggu memiliki bagian Liturgi Sabda. Tampaknya, mendengarkan bukan lagi hal yang sepele. Mendengarkan sabda Tuhan membawa pertumbuhan. Amin  ( ECMW )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×