SEP Surabaya, Sentra Evangelisasi Pribadi
Renungan Minggu, 20 September 2026
Yes 55:6-9; Mzm 145:2-3.8-9.17-18; Flp 1:20c-24.27a; Kis 16:14b; Mat 20:1-16
Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? ( Matius 20:15b )
Ketika saya masih kecil, saya egois dan sangat perhitungan. Semuanya dihitung dengan “adil”. Misalnya saat makan bersama di luar rumah, maka saya akan membayar sesuai dengan apa yang saya pesan. Saya akan memesan sesuai dengan kantong saya. Menurut saya orang yang pesan makanan mahal yang harus membayarnya sendiri. Saya tidak mau berkontribusi ikut menanggung pembayarannya.
Tentu saja mendengar perumpamaan tuan pemilik kebun anggur yang murah hati ini tidak sesuai dengan matematika saya. Bila bekerja satu dinar sehari (anggap saja 12 jam). Maka yang bekerja satu jam saja akan mendapat upah 1/12. Dan hukum ini yang berlaku. Menurut saya itu “adil”.
Pada saat bergumul dengan Firman Tuhan, sungguh menghentak saya. Ada yang namanya murah hati, yang belum ada dalam kamus hidup saya. Sungguh perlu belajar untuk menjadi ikhlas, penuh kasih dan tidak perhitungan. Ternyata dalam kasih, hukum matematika tidak berlaku. Belajar memberi dengan tidak berhitung. Mungkin sudah bisa memberi, namun perasaan tidak rela karena perhitungan itu masih tinggal. Pergumulan untuk menjadi rela. Menghilangkan perasaan “seharusnya” begini, “seharusnya” begitu.
Mengapa sulit untuk memberi “lebih banyak”? Dasarnya adalah kasih. Kasih itu menutupi semuanya. Kasih itu tidak perhitungan. Kasih itu bisa memberi bahkan pada saat tidak punya, pada saat kekurangan. Kasih itu mampu memberikan dirinya. Kasih itu yang memampukan untuk bersyukur dan tidak iri hati.
Saya memohon kasih Tuhan, yang mengalir dalam hidupku. Mengalir sampai melimpah ruah, sehingga saya pun bisa membagikan kasih pada orang lain. Kasih tidak berlaku hukum matematika.
Mari kita belajar mengasihi karena Tuhan begitu mengasihi kita. Tidak mengadili dengan seharusnya begini, seharusnya begitu. Dengan demikian dunia menjadi indah. Kecacatan orang lain menjadi hilang. Bukan berarti tidak ada, tetapi kita sudah melihat dengan kacamata yang berbeda.
Terima kasih Tuhan kasih-Mu yang terus mengalir dalam hidupku. Mampukanku untuk membagikan kasihku pada orang lain. Amin. ( FPID )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×