Renungan hari Minggu, 27 September 2026, Hari Minggu Biasa XXVI.
Bacaan: Yeh. 18:25-28; Mzm. 25:4bc-5,6-7,8-9; Flp. 2:1-11 (panjang) atau Flp. 2:1-5 (singkat); Mat. 21:28-32.
“Siapakah diantara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” jawab mereka, “Yang terakhir”. Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, para pemungut cukai dan para perempuan pelacur akan mendahului kamu masih kedalam Kerajaan Allah.” (Matius 21:31)
Saudara-saudara terkasih di dalam Kristus, pada perumpaan tentang kedua anak yang diminta oleh bapanya melakukan suatu tugas, yang sulung mengatakan “Ya” namun tidak melaksanakan, sedangkan yang bungsu mengatakan “Tidak” namun akhirnya melaksanakan. Sebenarnya kedua anak ini sama-sama anak yang tidak taat pada perintah bapanya. Si sulung pada awalnya taat, namun gagal mewujudkan perintah bapanya, sedang si bungsu pada awalnya tidak taat, namun si bungsu mau berproses, menyesal, dan berubah sehingga dapat melaksanakan perintah bapanya. Nah proses perjuangan si bungsu untuk taat pada bapanya membuahkan perubahan batin, inilah yang disebut pertobatan sejati dan inilah yang dihargai oleh Yesus.
Yesus menekankan begitu pentingnya proses pertobatan sejati sehingga seolah olah Yesus membenarkan tindakan pemungut cukai dan pelacur dan memberikan mereka kesempatan terlebih dahulu untuk masuk Kerajaan Allah daripada kepada para imam-imam dan tua-tua bangsa Yahudi. Sama dengan kisah kedua anak di atas, jika pemungut cukai dan pelacur benar-benar bertobat maka pertobatannya akan berkenan pada Yesus, sangat berbeda dengan imam-imam dan tua-tua bangsa Yahudi yang hanya berkata-kata namun tidak mau bertindak.
Bacaan ini memberi harapan pada kita: bahwa mungkin keadaan kita yang saat ini berdosa dapat berubah menjadi tidak berdosa lagi asalkan kita mau bertobat. Yesus selalu memanggil kita bertobat. Karena itu mari kita merefleksikan bacaan di atas pada hidup kita: Apakah kita selalu taat? Sudahkah kita setia dan menjalankan panggilan Tuhan dalam hidup kita? Apakah saya mengatakan “ya” pada Tuhan tapi tidak melaksanakannya? Mampukah saya mengatakan “ya,” dan “ya” juga dalam melaksanakannya?
Marilah kita berdoa: Ya Allah Bapa, berikanlah aku kejujuran untuk mengakui penolakanku, kerendahan hati untuk bertobat, dan keberanian untuk melakukan kehendak-Mu, bukan hanya dengan kata-kata, tapi di dalam hidupku. Semua ini kumohon kepada-Mu dalam persatuan dengan Roh Kudus dan demi Yesus Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin. (LSL)