Renungan Sabtu, 10 Oktober 2026.
Gal 3: 22-29 ; Mzm 105 : 2-3, 4-5, 6-7 ; Luk 11 : 27-28
Tetapi Yesus bersabda,” Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan sabda Allah dan memeliharanya.” (Lukas 11 : 28)
Suatu saat dalam percakapan telepon, seorang kakak berbicara kepada adiknya yang tinggal berbeda negara, karena setelah menyelesaikan sekolahnya di luar negeri, sang kakak melanjutkan bekerja di negara tersebut dan menetap. Mereka sudah lama tidak bertemu, sampai masing-masing mempunyai kehidupan dan keluarga sendiri. Dalam percakapan itu, sang kakak berjanji akan datang pada akhir tahun untuk liburan bersama dengan istri dan anak-anaknya. Saat itu teknologi belum berkembang seperti sekarang dimana video call bisa jadi pengobat rindu. Bisa dibayangkan bagaimana janji untuk datang dan bertemu setelah sekian lama berpisah tentu menjadi moment yang sangat dinantikan kakak dan adik tersebut.
Hari ini kita mendengarkan Yesus bersabda : yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan Sabda Allah dan memeliharanya (Luk 11 : 29). Maksud dari mendengarkan Sabda Allah dan memeliharanya adalah benar-benar bertemu dan bersatu dengan Yesus, sehingga Sang Sabda merasuk dan menjiwai di dalam kehidupan kita. Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Galatia menuliskan bahwa janji atau Hukum Taurat yang diberikan jaman Musa sudah mengatur supaya manusia bisa hidup dalam kebenaran, namun keadaan itu sering dilanggar karena manusia terkurung di bawah kekuasaan dosa (Gal 3 :22). Namun dengan penggenapan kedatangan Yesus, sekarang Hukum Taurat itu dilengkapi dengan iman yang hidup, sehingga manusia yang sungguh menggunakannya akan mencapai kebahagiaan sejati. Sama seperti cerita di atas, akhirnya adik bertemu dengan sang Kakak yang sangat dirindukannya, sehingga janji atau harapan menjadi nyata dan kebahagiaan sungguh terjadi.
Maukah kita sungguh melakukan kehendak Allah dalam pikiran, sikap dan tingkah laku, supaya Hukum dan iman yang hidup digunakan, sehingga kebahagiaan itu benar terjadi ?
Tuhan Yesus bimbing kami selalu, supaya bisa semakin bertumbuh dalam sikap dan tingkah laku, sehingga kelak kami boleh merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya saat hidup sesuai kehendak-Mu, sebab Engkaulah pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin… (TST)