SEP Surabaya, Sentra Evangelisasi Pribadi

Renungan hari Senin, 12 Oktober 2026, Pekan Biasa XXVIII.

Bacaan: Gal. 4:22-24.26-27.31-5:1; Mzm. 113:1-2.3-4.5a.6-7; Luk. 11:29-32.

“Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.” (Lukas 11:29)

Pada zaman Yesus banyak orang berbondong-bondong datang bukan karena mau percaya, tapi karena mau melihat mukjizat. Mereka ingin tontonan, bukan pertobatan. Yesus tahu isi hati itu, makanya Ia menegur mereka dengan keras. Lewat kisah Yunus Yesus mau mengatakan bahwa tanda terbesar sudah ada di depan mata, tapi mereka tidak mau melihatnya.

Janganlah kita menjadi serupa dengan angkatan yang jahat, yaitu angkatan yang menuntut Tuhan membuktikan diri-Nya dulu, baru mau percaya. Kita kadang juga begitu, “Tuhan, kalau Engkau sembuhkan sakitku, maka aku percaya. Kalau Engkau beri berkat, maka aku setia.” Padahal iman bukan soal melihat dulu baru percaya, tapi percaya dulu baru melihat.

Mari kita belajar dari orang Niniwe, orang berdosa yang sangat jahat. Mereka tidak minta tanda tambahan ketika mendengar khotbah dari Yunus. Mereka merendahkan hati, berpuasa, dan berbalik dari jalannya. Jadi, apakah hati kita menjadi lembut saat ditegur firman Tuhan?

Tuhan tidak mencari orang yang pintar meminta tanda, Tuhan mencari hati yang peka dan mau bertobat. Jangan tunggu mukjizat besar baru mau kembali kepada Tuhan. Hari ini, ketika firman menegur kita, lembutkan hati dan langsung bertobatlah seperti orang Niniwe. Percayalah bahwa keselamatan ada pada diri Yesus sendiri.

Doa:
Bapa yang baik, ampunilah kami yang sering kali menuntut tanda dari-Mu baru mau percaya. Lembutkanlah hati kami seperti orang Niniwe, dan berikan kami kerinduan untuk mencari hikmat-Mu. Kami mau percaya bukan karena melihat, tapi karena Engkau adalah Tuhan. Amin. (EPW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×