Renungan hari Kamis, 15 Oktober 2026, Peringatan Wajib St. Teresia dari Yesus.
Bacaan: Ef. 1:1-10; Mzm. 98:1.2-3ab.3cd-4.5-6; Luk. 11:47-54
“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi.” (Lukas 11:52)
Yesus sangat mengecam perilaku para ahli Taurat yang munafik. Mereka sangat berpengetahuan, mengajar, dan menasehati tapi nyatanya hanya untuk pamer kesalehan. Terlihat religius tapi hati mereka jauh dari kehendak Allah. Sebagai orang-orang yang lebih berpengetahuan, seharusnya menuntun kepada kebenaran Allah tapi justru menjadi penghalang orang untuk mengenal Allah.
Mungkin perilaku kita tidak seekstrim para ahli Taurat tersebut. Tapi jika ditelusuri lebih jauh dengan jujur maka kita juga mungkin sering memakai “topeng” rohani. Padahal Tuhan tidak hanya melihat penampilan rohani tapi lebih melihat hati yang taat dan tulus.
Pada awal bulan Oktober saya berlatih lagu dengan tim pujian untuk persiapan pelayanan di Persekutuan Doa. Si gitaris bercerita tentang teori dari ilmuwan Jepang tentang disiplin 49 hari yang bisa mengubah perilaku. Sekarang sudah berubah menjadi hanya 21 hari. Singkatnya kecerdasan adaptasi tubuh kita sudah semakin meningkat. Ceritanya ditutup dengan: “Tetapi dalam agama Katolik cukup dengan sembilan hari (Novena) asal dilakukan dengan iman.” Lalu si gitaris bercerita bagaimana ber-Novena Rosario dapat menolongnya melalui masa-masa sulit dalam pekerjaan bahkan berhasil mendapat promosi.
Ceritanya membuat saya merasa tersentuh, lebih tepatnya “ditegur”. Bulan Rosario sudah memasuki hari ke-5 tetapi saya belum sekali pun berdoa Rosario dengan dalih sangat sibuk. Si gitaris yang tiap hari kerja pulang jam tujuh malam saja, masih sempat berdoa Rosario. Padahal dia harus berlatih musik dan melayani di tim pujian untuk dua Persekutuan Doa. Artinya seminggu dia harus keluar malam minimal empat kali, tapi masih sempat berdoa Rosario.
Pengalaman “teguran” ini saya bagikan di Persekutuan Doa, saat menjadi Worship Leader. Saya tutup dengan himbauan dan janji untuk rajin berdoa Rosario dengan sepenuh hati bukan karena terpaksa atau disiplin. Namun kenyataannya sampai saat renungan ini dibuat, saya sudah tiga kali tidak berdoa Rosario dengan dalih sangat sibuk dan merasa kurang sehat. Padahal kalau mau “dipaksakan” seharusnya masih sempat.
Saat membaca ayat di atas, hati saya bertanya, “Sudah seberapa miripkah saya dengan perilaku para ahli Taurat itu?” Bagaimana dengan Anda? Semoga saja tidak mirip! Atau jangan (lagi) mirip deh, walau cuma sedikit.
Tuhan memberkati. (LO)